Tag

, , ,

Baru-baru ini kata “Perang” Booming menjadi topik utama pemberitaan ditengah-tengah panasnya konstelasi politik. Diawali statemen satu kubu tentang “perang total” dibalas dengan puisi “perang badar” oleh kubu lainnya. Sehingga perdebatan meluas sampai pada warung kopi masyarakat di penjuru nusantara.

Mencuatnya kata “perang” Membuat keresahan pada masyarakat luas karena memang tidak dapat dipungkiri bahwa cuaca politik kian memanas. Panasnya tensi politik dapat terlihat dengan mata telanjang setidaknya di media sosial menjadi Perang urat saraf yang terkadang mengandung unsur fitnah, black campaign, berita sesat diantara kubu. Produksi fitnah dan sejenisnya massif berkeliaran meskipun pada saat yang sama dua kubu menyatakan perang terhadap berita hoax.

Dua bulan menjelang april 2019 menjadi waktu yang panjang bagi masyarakat jika terus dihiasi dengan manuver politik Cowboy. Sehingga muncul kekhawatiran akankah terjadi serang menyerang melalui tembakan pistol?

Tentu kita tidak berharap peperangan terjadi apalagi antar anak negeri. Pengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan bedanya pilihan harus diposisikan kembali pada konteks yang sesungguhnya. Perbedaan adalah suatu kenyataan yang harus diterima, perbedaan jangan sampai dimaknai sebagai batasan sehingga membuat rusaknya keakraban sebagai warga negara.

Pilpres adalah proses menuju perubahan, ganti atau tidaknya presiden juga sebuah kenyataan selama itu dilakukan secara konstitusional. Perang dalam arti meraih tampuk kekuasaan harusnya ditunjukkan dengan sikap-sikap negarawan.

Iklan