Tags

,

Nama Objek: Benteng Peninggalan Jepang
Alamat: Kp. Caringin Ds. Pejamben Kec. Carita Kab. Pandeglang Banten
Waktu: Sabtu, 10 Maret 2012
Pukul: 14.00 WIB s/d 17.00 WIB
Team: Oji Fahruroji & Hendar Kiswanto (SEMESTA RESEARCH)

Menurut penuturan warga disekitar, bahwa benteng ini merupakan peninggalan kolonial Jepang yang digunakan sebagai benteng pertahanan. Meskipun ada yang berpendapat bahwa benteng tersebut adalah peninggalan kolonial Belanda sebagaimana tulisan kami sebelumnya akan tetapi setelah melakukan penelitian lebih lanjut kami mengambil kesimpulan bahwa bangunan ini lebih dipercayai merupakan peninggalan kolonial Jepang dengan membandingkan dan menganalisis jenis bangunannya.

Lokasi bangunan yang kami teliti beralamat di Kp. Caringin Ds. Pejamben Kec. Carita kab. Pandeglang-banten, letak geografis bangunan tersebut kesebelah barat berjarak sekitar 1000 meter dari pantai laguna-caringin.

Penelitian kali ini dapat dikatakan untuk pertama kalinya dilakukan oleh aktivis SEMESTA RESEARCH dengan fasilitas penelitian seadanya oleh karena kami sadar akan keterbatasan fasilitas maupun wawasan kami dalam melakukan penelitian ini, akan tetapi kami berprinsip learning by doing dan tentunya dengan semangat kebersamaan kami memulai penelitian tersebut.

Berawal dari cerita masyarakat dan secara kebetulan Benteng yang diteliti itu dekat tempat tinggal salah satu aktivis SEMESTA RESEARCH dan tempat bermain semasa kecilnya, setelah melakukan beberapa kali diskusi kami semakin termotivasi untuk terjun langsung kelapangan, hasilnya akan kami uraikan beserta foto-foto dilapangan di bawah ini :

Menurut penuturan warga yang tinggal di lokasi  bangunan benteng ini adalah peninggalan kolonial Jepang saat menjajah Indonesia sebagai markas maupun benteng pertahanan nereka. Benteamai bangunan tersebut menyesuaikan dengan alamat keberadaannya yaitu BENTENG JEPANG CARINGIN meskipun belum tentu bahwa objek yang kami teliti adalah benteng ataupun bangunan lainnya yang dibangun dan digunakan colonial, sebagaimana dapat dilihat dalam gambar bangunan berada di tengah-tengah pesawahan warga dan disekitarnya telah tumbuh pepohonan pemilik tanah dan ditumbuhi rumput-rumput yang menutupi atas bangunan tersebut.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas sebagian sumber inspirasi penelitian ini adalah tradisi lisan masyarakat setempat, salah satu sumber mengatakan bahwa bangunan itu adalah benteng colonial Jepang yang memiliki terowongan ke pesisir pantai Laguna (Caringin) bahkan ke benteng di Teluk (Labuan) yang jaraknya berkisar 2000 meter, keterangan di atas masih bersifat nisbi karena tanpa bukti-bukti fisik  akan tetapi bukan berarti tidak mungkin tentang keberadaan terowongan tersebut karena kami telah mengetahui keberadaan benteng di pesisir pantai teluk yang dimaksud akan tetapi meskipun keberadaan benteng di Pantai Teluk itu benar belum tentu memiliki terowongan ke Benteng Jepang di Caringin yang sedang diteliti.  

Waktu dibangunnya benteng tersebut belum dapat diketahui akan tetapi sesuai dengan tradisi lisan warga sekitar bahwa Bangunan tersebut adalah benteng pada masa colonial Jepang yang menjajah ke Indonesia dari tahun 1942-1945, artinya sementara ini kami hanya mengetahui periodenya saja sedangkan untuk tanggal, bulan dan tahunnya belum kami ketahui.

Hasil penelitian sementara dari segi Ukuran bangunan ini memiliki panjang 5 meter dan lebar 4 meter diukur dari bagian atas bangunan yang bersegi empat sedangkan untuk tinggi kami belum mendapatkan hasil dikarenakan bangunan tersebut dalam posisi terpendam dan dapat dikatakan bangunan ini adalah ruang di bawah tanah dulunya diperkirakan setelah mengalami proses pembukaan lahan untuk dijadikan pesawahan ataupun pertanian lainnya disekitar bangunan tersebut mengalami penggalian, untuk mendapatkan ukuran tinggi kita harus melakukan penggalian akan tetapi apabila diukur dari dalam ruangan bangunan tersebut memiliki tinggi kurang lebih 2 meter, sedangkan ukuran di dalam ruangan kurang lebih berukuran 1 meter. Apabila kita berada diatas bangunan kita akan melihat dua lubang yang memiliki ukuran yang sama yaitu panjang 50 Cm dan lebar 20 Cm yang diperkirakan lubang tersebut berfungsi sebagai ventilasi atau penerangan kedalam ruangan, dinding bangunan tersebut memiliki ketebalan sekitas 50 Cm, bahan dasar bangunan ini terdiri dari batu sungai yang berukuran kecil, karang, pasir serta bahan plester yang belum dapat kami jelaskan secara detail.

Pintu masuk kedalam ruangan ini seperti yang dapat dilihat dari foto pintu masuk telah ditumbuhi rumput-rumput dan pepohonan setinggi badan dengan ukuran pintu lebar 70 cm dan tinggi 60 cm akan tetapi untuk tinggi pintu masuk bukan ukuran aslinya karena kedasar pintu dalam kondisi tertimbun tanah, hasil pengamatan kami bangunan tersebut sudah sering dimasuki oleh warga ataupun pemilik tanah sebagaimana foto di atas kami menemukan tulisan dari cat berwarna merah yang bertuliskan “DILARANG MASUK” akan tetapi kami belum mengetahui siapa inisiatornya.

Apabila kita masuk kedalam ruangan kita akan melewati tiga sudut ruangan, pertama dari pintu lurus kemudian kekiri dan kekanan untuk  masuk kedalam ruangan inti, setelah kita berada di dalam ruangan inti di bagian barat kita akan menemui pintu yang ukurannya sama dengan ukuran pintu masuk yang telah dijelaskan di atas akan tetapi kami belum mengetahui menuju kemanakah pintu itu apakah kedalam ruangan lainnya ataupun pintu keluar karena kondisi pintu itu tertutup oleh tanah, jika kita berspekulasi bahwa pintu di dalam ruangan ini menuju ruangan lagi kemungkinan besar menuju keruangan bawah karena jika mendatar kemungkinan besar itu pintu keluar karena sekitar 4 meter dari pintu itu kesebelah barat adalah tebing pesawahahan warga, menurut pengamatan dan kajian kami pintu di dalam ruangan yang tertimbun tanah itu dapat menjadi jawaban untuk kita mengetahui fungsi dan jenis bangunan yang sebenarnya. tentunya untuk mendapatkan hasil yang lebih objektif kita harus melakukan penggalian dan penelitian lebih lanjut.

Ruangan dalam bangunan ini berukuran sekitar panjang dan lebar 3 meter dengan tinggi dari lantai ke atas sekitar 1 meter itupun bukan ukuran sebenarnya karena lantai dasarnya adalah timbunan tanah serta sampah-sampah seperti buah kelapa yang mengering dan material lainnya yang masuk melalui pintu ataupun lubang bersegi empat dibagian atap.

Pembahasan kita lanjutkan dari segi seni yang terdapat di dinding setiap ruangan, hasil penelitian kami menemukan ornament, interior ataupun seni yang terdapat di dinding bersegi empat yang cembung dan sebagai langkah untuk mengetahui seni dinding manakah yang dipakai dalam bangunan ini kami akan melakukan perbandingan dengan seni bangunan-bangunan lama lainnya.

Benda atau bangunan peninggalan masa lalu merupakan aset berharga bagi kita saat ini karena selain memiliki sisi keilmuan juga memiliki potensi ekonomi untuk kesejahteraan​ masyarakat. Namun benda peninggalan sejarah di kabupaten Pandeglang khususnya belum sepenuhnya diperhatikan secara maksimal, semoga melalui penelitian yang masih jauh dari kaidah dan metode penelitian ilmiah namun menjadi informasi maupun langkah awal demi kelestarian benda dan bangunan bersejarah terutama yang belum ditetapkan sebagai benda bersejarah yang dilindungi.

Terimakasih

Advertisements