Tags

, , , ,

​KOTA LABUAN GEMILANG

Sebuah Kontemplasi Perjuangan 12 November 1926 untuk Masa Depan Kota Labuan yang Gemilang

Oleh: Oji Fahruroji

Background Kota Labuan Gemilang


Jika kita flashback sembilan puluh tahun kebelakang tepatnya sekitar 12 November 1926 maka hari-hari itu di Banten khususnya di Labuan dan sekitarnya sedang dilakukan sebuah konsolidasi mengenai perjuangan perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda yang saat itu menghegemoni. Meskipun pergerakan perlawanan ini sebagai hasil dari gerakan bawah tanah Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah Sarekat Islam (SI) melemah yang dipimpin oleh Achmad Chatib dan peranan penting dalam perjuangan seperti Abuya Moekri serta kharismatiknya Mama Ajengan Caringin (Syekh Asnawi) dan tokoh pejuang lainnya namun sesungguhnya aksi revolusioner di Labuan dan sekitarnya merupakan perang suci yang didasari keagamaan dan kebangsaan yang melawan kedzaliman kolonial karena dapat dikatakan bahwa ideologi komunis tidak diterima begitu saja karena nyatanya dalam penyerangan 12 November 1926 dan beberapa pekan selanjutnya semangatnya adalah semangat jihad ditandai dengan kibaran bendera bertuliskan “Dengan pertolongan Allah segalanya dapat diraih” dan sebelum perangpun para pejuang berpuasa terlebih dahulu serta sembahyang perang. Meskipun kekuatan pribumi hanya didukung dengan persenjataan seadanya berbeda jauh dengan peralatan perang yang dimiliki kolonial Belanda dan antek-anteknya namun berkat terjalinnya kesatuan Para Ulama yang memimpin para petani, nelayan, pedagang, buruh dan lainnya untuk mengusir penjajahan dan meraih kebebasan di daerah yang muaranya adalah kemerdekaan Indonesia pada saat itu mampu menekan kekuatan kolonial meskipun tidak berhasil menumpas secara keseluruhan. (Sumber: Arit dan Bulan Sabit. Michael C. Williams)

Opsi Tugu Kota Labuan Gemilang


Kota Labuan saat ini merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Pandeglang provinsi Banten dengan luas wilayah 15,66 km2 dan merupakan kecamatan terpadat di kabupaten Pandeglang. Letak geografis kota Labuan berada di pesisir pantai dengan ketinggian 3 meter di atas permukaan laut oleh karenanya dikenal juga sebagai kota nelayan dengan penghasilan ikan yang luar biasa melimpah, selain itu Labuan menjadi jantung perekonomian wilayah disekitarnya dengan memiliki pasar dan industri dan perbankan, dan potensi wisata alam dan religi yang telah dikenal oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, kini Labuan menjadi kota yang modern dan multi etnis dengan berdampingannya suku asli Sunda Jawa dan suku pendatang seperti etnis Tionghoa, Minang, Batak dan lainnya dengan rukun. Namun jika kita melihat sisi lain dari kota Labuan akan membuat mata tercengang seperti infrastruktur jalan yang rusak, kurangnya fasilitas umum, kesenjangan sosial dan bebasnya pergaulan remaja dan polemik lainnya masih nampak di kota Labuan.
Berdasarkan kondisi Labuan di atas Gerakan Pemuda Kota Labuan (GPKL) yang di motori oleh para tokoh pemuda dan merangkul semua elemen di Labuan dengan semangat kebersamaan dan bentuk pengabdian murni pada masyarakat Labuan GPKL akan menyelenggarakan “Peringatan Hari Jadi Kota Labuan” dengan tagline KOTA LABUAN GEMILANG pada 12 November 2016 di Labuan dan telah memiliki beberapa agenda awal diantaranya Pembuatan Tugu Labuan, Renovasi Gerbang Selamat Datang Kota Labuan, Eks Kewedanaan Labuan dan agenda lainnya . Kegiatan ini murni lahir dari masyarakat dan merupakan panggung bagi kamu muda untuk menyampaikan visi sekaligus kegelisahannya tentang kondisi kota Labuan dan juga diwarnai dengan pentas seni budaya daerah dan islami, akuistik pemuda di Labuan. Kegiatan ini melibatkan pula berbagai unsur baik para pemuda, akademisi, tokoh, organisasi massa, petani, pedagang, nelayan, intansi pemerintah, Lembaga swasta di kecamatan Labuan dan Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Kantor eks Kewedanaan Labuan

Perubahan suatu daerah yang sesungguhnya adalah ketika kemauan itu timbul dari seluruh masyarakat, maka membentuk karakter masyarakat adalah langkah awal yang harus dilakukan terutama membina generasi muda yang hari ini terjebak dalam perangkap kebebasan yang seolah tanpa batas.

Advertisements