Tags

, , , , , , , ,

Pengrajin Emping di Pandeglang

Emping adalah makanan ringan dengan bahan asal dari buah melinjo yang dikenal sebagai makanan ringan khas Pandeglang yang diproduksi di beberapa kecamatan seperti kecamatan Jiput, Menes, Pagelaran dan sekitarnya. Populasi pohon melinjo hampir merata di wilayah Kabupaten Pandeglang meskipun dari waktu ke waktu jumlahnya semakin berkurang hal ini disebabkan penebangan dan tumbangnya pohon melinjo baik akibat usia yang sudah tua ataupun akibat cuaca alam, disisi lain sangat jarang penanaman pohon melinjo yang dilakukan. Proses produksi emping di Pandeglang-Banten masih dilakukan dengan cara tradisional oleh karena itu cukup menyerap angka pekerja/pengrajin terutama ibu-ibu, berkaitan dengan proses produksi telah penulis bahas dalamb tulisan yang berjudul agroindustri emping di Kecamatan Jiput. Sebagaimana judul pada tulisan ini akan membahas Pengrajin Emping dan Kesejahteraannya, sebagai usaha untuk mengetahui apakah para pengrajin emping ekonominya terbangun dari hasil upah buruh mengemping (proses membuat emping). Pengrajin Emping di Pandeglang pada umumnya terbagi pada dua jenis, pertama mengemping milik pribadi, biasanya buah melinjo dihasilkan dari kebun sendiri dan diproses sendiri sampai menjadi emping kering untuk kemudian dijual ke cengkau (agen) dan kedua  mengemping dari orang lain/cengkau (agen) yaitu seorang yang memiliki buah melinjo dalam jumlah banyak yang dibeli dari petani untuk diburuhkan, sistem pengupahan buruh Emping di Kecamatan Jiput dan sekitarnya dilakukan dengan dua cara pertama dengan ukuran kilo, perkilogramnya yaitu sekitar Rp. 4000 dan kedua dengan ukuran perliter, perliter nya di upah sekitar Rp. 2500.

Kemampuan setiap pengrajin dalam produksi Emping dalam satu hari rata-rata sekitar 6 Kg. jika dalam literan sampai dengan 10 Liter perharinya, jadi penghasilan para pengrajin dalam perharinya mendapatkan Rp. 25000. Jika kita melihat jumlah ini tentu tidak sebanding dengan tenaga yang dikeluarkan dan tentu tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari apalagi untuk menabung. Kondisi demikian menjadi sebuah ironi, Emping sebagai bahan makanan yang terus diproduksi dan dikonsumsi banyak orang ternyata tidak memberikan kesejahteraan kepada para pengrajinnya. Bagaimanakah caranya agar para pengrajin Emping mendapatkan kesejahteraan dari profesi yang digelutinya? Hal ini harus ditinjau dari segala aspek di dalamnya mulai dari hulu ke hilirnya, seperti harga buah melinjo, harga jual emping dan sistem cengkau (agen) dan mekanisme pasarnya, termasuk untuk menjaga eksistensi Emping sebagai salah satu makanan ringan khas Pandeglang harus dilakukan perhatian terhadap ekosistem pohon melinjo. Agar profesi mengemping tidak lagi dipandang sebelah mata dan generasi muda tidak segan untuk menjadi pengrajin Emping atau menggali dan mengolah potensi di desa akan lebih baik jika dibandingkan harus bekerja ke kota karena desa tidak selayaknya ditinggalkan akan tetapi desa haruslah dikembangkan oleh penduduk nya sebagai bentuk pengembangan diri sekaligus pembangunan desa.

Sebuah Ironi Kesejahteraan Pengrajin Emping
Oji Fahruroji

Advertisements