Tags

, , , , , , , , , , ,

Letusan dahsyat krakatau 1883 menjadi pemicu gelombang tinggi yang menerjang pulau-pulau disekitar selat Sunda bahkan beberapa negara di Asia. Langit murung dan tsunami memporak-porandakan disekitarnya, bangkai binatang dan mayat-mayat manusia mengambang di lautan dan bergelimpangan dibibir pantai, pemukiman warga hancur lebur di sapu gelombang tak tersisa yang tadinya bangunan pemukiman menjadi lumpur. Kondisi mengerikan ini tersurat dalam Sebuah Karya Monumental Syair Lampung Karam dan catatan-catatan sejarah tentang meletusnya krakatau yang sangat berpengaruh terhadap peradaban yang mulai memasuki era modern dunia. Namun demikian pasca letusan dan tsunami yang menyapu habis daerah pantai barat Banten mulai dari Cilegon, Serang dan Pandeglang, sebagai pembatasan masalah dalam kesempatan ini penulis memfokuskan penelitian di wilayah Caringin pada saat itu yang juga memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah Banten. Krisis kegiatan literasi menyebabkan tidak begitu banyak yang mengetahui bagaimana kondisi sebenarnya serta seberapa besar pengaruhnya terhadap dinamika sosial, politik, budaya, pendidikan dan agama. Oleh karenanya melalui tulisan ini penulis mencoba mengungkap dengan sumber yang ada.

A. Sejarah Caringin

Pada akhir abad 18 untuk mempertahankan status kolonial nya Belanda mengangkat Herman Wiliam Deandles sebagai gubernur jenderal di kepulauan Nusantara tahun 1808, ia membagi Banten menjadi tiga kabupaten yaitu Banten Hulu, Caringin dan Anyer. Namun status kabupaten tersebut mengalami perubahan sesuai dengan silih bergantinya penjajah. Ketika Inggris mengalahkan Belanda pada 1811 yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles. Kesultanan Banten status Caringin menjadi ibukota kabupaten Banten Kulon (Banten Barat) pada 1813 yang dipimpin oleh Tubagus Hayudin. Namun Inggris kembali menyerahkan wilayah jajahannya pada Belanda pada tahun 1816. (Catatan Masa Lalu Banten,2011 , 182-186)

Wilayah Caringin dengan letak geografis yang strategisnya selalu memiliki posisi penting, Belanda menempatkan Tubagus Wirajaya (Regen Boncel) tahun 1816 untuk menjadi regen/bupati di Keregenan Caringin dengan pusat pemerintahan di daerah Caringin dan Pejamben, menurut tradisi lisan di wilayah Caringin, Regen Boncel berasal dari Bogor, asal muasal kedatangannya ke Caringin yaitu dibawa oleh Regen sebelumnya iya dijadikan pembantu keregenan sebagai pengurus kuda-kuda keregenan, namun boncel adalah pribadi yang memiliki visi karena  meskipun ia hanya seorang pembantu keregenan tapi ia mencuri-curi waktu untuk belajar hingga akhirnya kelak ia dipercaya menjadi Regen Caringin. Namun kisah Regen Boncel berakhir kurang menyenangkan karena ketika suatu saat ibunya datang untuk menemui Regen Boncel namun Boncel tidak memperdulikan “tidak mengakui” kedatangan seorang perempuan tua yang mengaku ibunya. Ia meninggal terkena penyakit gatal-gatal sekujur tubuhnya, diperkirakan karena sikap terhadap ibu kandungnya. Keregenan Caringin berakhir bersamaan dengan kedatangan gelombang Tsunami pada 1883. Jejak sejarah Caringin dapat kembali ditelusuri ketika lahir sosok yang berkharisma yaitu Syekh Asnawi bin Abdurroman (1850). Seorang pelita masyarakat ditengah-tengah kerusakan moral, wabah penyakit dan kondisi kritis akibat Tsunami yang menerjang Caringin akibat meletus Krakatau pada tahun 1883

B. Dampak Letusan Gunung Krakatau di Caringin Tahun 1883

Bayi terdengar sayup-sayup menangis karena kelaparan, tangisannya lalu terhenti mungkin ia sudah meninggal dunia karena ibunya tidak mampu lagi untuk menyusui, para pria dewasa tidak mampu juga untuk berkebun maupun melaut, semua aktivitas masyarakat di Banten pada tahun 1879-1880 sangat mengenaskan akibat menderita penyakit wabah ganas dan sakit panas yang mematikan, tercatat 210.000 jiwa penduduk menderita penyakit panas dan 40.000 diantaranya meninggal, tangisan disiang hari dan malam hari penduduk Banten mengiang, jika kita sudi mengelilingi Banten pada tahun 1880, anehnya hal ini hanya terjadi di Banten. Penduduk mulai kembali marak berdoa dan berdzikir baik di rumah maupun di langgar.

Ditengah-tengah derita yang merajalela Krakatau meladak pada 23 Agustus 1883 dalam referensi lain menyebutkan tanggal 27 Agustus dengan suara yang terdengar ratusan kilo jaraknya, Letusan ini dicatat sebagai yang terhebat dalam sejarah vulkanologi Indonesia yang disusul dengan Tsunami berketinggian 30 meter yang melanda pantai barat banten, Anyer, Merak, dan Caringin hancur. Desa-desa sirih, Pasauran, Tajur, Carita semuanya lenyap tanpa bekas. Korban menonghal tercatat sebanyak 21.500 jiwa manusia yang tenggelam dalam gelombang, Jalan raya Caringin-Anyer yang disebut-sebut lebih indah dari jalan tersohor seantero yaitu Riviera (Perancis Selatan) tergenang habis bahkan lenyap, daratan yang tadinya pemukiman saat itu berubah menjadi lautan lumpur, abu dan Batang pohon yang bergelimpangan serta selain mayat manusia yang terapung juga bergelimpangan di darat, begitupun dengan bangkai binatang.

Caringin adalah salah satu wilayah yang hancur saat diterjang pasang gelombang laut (tsunami) tahun 1883, beberapa hari setelah terjadi tsunami di Caringin dikuburkan 4.500 mayat saat langit murung tidak bersinar tertutup abu vulkanik selama beberapa hari, angka korban yang sangat besar hal ini diperkirakan karena populasi penduduk yang padat di Caringin jika dibandingkan dengan Anyer dengan angka korban 1.517. Beruntung wabah tidak menjangkit warga disekitar lokasi tsunami. Bantuan makanan, pakaian, uang dan obat-obatan berdatangan untuk meringankan penderitaan yang bertubi-tubi datang. Tsunami yang menerjang Caringin diperkirakan juga menghancurkan bangunan-bangunan keregenan Caringin baik itu Kantor keregenan dan gedung-gedung lainnya, gedung rombeng yang diperkirakan sebagai mesjid juga hancur. Sangat disayangkan bangunan peninggalan keregenan Caringin lenyap sama sekali selain hancur oleh Tsunami dan sisa-sisanya di ambil oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk dijual maupun di pakai padahal bangunan bersejarah seharusnya dijaga untuk dilestarikan keaslian nya, hal ini terjadi jauh setelah periode Tsunami tsunami. (Sumber: Diskusi dengan Tokoh Caringin)

Penyakit panas dan wabah ganas dan Letusan Krakatau dengan hamburan abu vulkanik dan terjangan dahsyat tsunami yang memakan banyak korban, penduduk yang tersisa bersama-sama mengangkat mayat-mayat untuk dikuburkan di Caringin, langit masih gelap dilapisi abu. Wilayah Banten gelap gulita akibat terjadi gerhana matahari selama 28 jam. 

Korban Meninggal diperkirakan lebih banyak dibandingkan yang selamat dari sedikit penduduk Caringin yang selamat dari tsunami ialah Syekh Asnawi Bin Abdurroman (saat Tsunami 1883 ia diperkitakan berusia 33 Tahun) bersama pengikutnya beliau mengungsi ke daerah Murui. Semasa kecil Syekh Asnawi adalah seorang yang dididik disiplin penuh oleh ayahnya terutama pelajaran agama, bahkan beliau hafal Al Qur’an saat usianya sembilan tahun. Beliau di kirim ke Makkah untuk lebih memperdalam pelajaran agama, selama 6 tahun di Makkah, Syekh Asnawi belajar kepada ulama besar seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Ahmad Khatib Sambas serta KH. Abdul Karim Tanara. Beliau bertemu dengan KH. Tubagus Waseh dari Cadasari yang kelak menjadi besannya. Syekh Asnawi terpaksa pulang ketika mendapatkan informasi bahwa ayahnya meninggal dunia. 

Perasaan Duka cita akibat ayahnya meninggal tidak bisa lama-lama meliputi hati, karena ketika Syekh Asnawi tiba di Caringin kerusakan moral seperti perjudian, pelacuran, mabuk-mabukan, penjarahan sampai pada pembunuhan terjadi pada masyarakat Caringin, Sebagai seorang yang berilmu ia merasa berkewajiban untuk meluruskan kemungkaran dan kedzaliman di Caringin. Syekh Asnawi yang berumur 16 tahun namun meskipun Ilmunya memadai, dalam berdakwah beliau masih mengundang ulama-ulama lainnya, perjuangan untuk meluruskan akidah dan membumi hanguskan kemungkaran disana ternyata belum berbuah manis, ketika kemungkaran dan kemaksiatan masih merajalela, saat itulah Krakatau Meletus dan Tsunami menerjang menenggelamkan kota Caringin. 

Setelah duka karena letusan Krakatau dan tsunami reda, Caringin tinggallah pemukiman kecil, Syekh Asnawi menetap kembali di Caringin saat itu beliau sudah menjadi ulama terkemuka, sambil berdakwah beliau mengajak masyarakat Caringin untuk membangun, menata, dan membersihkan wilayah Caringin menjadi pemukiman yang aman, nyaman dan bersih, didirikan kembali mesjid yang kini adalah mesjid As Salafie Caringin serta membangun Pesantren. Beliau terus berjuang dalam meluruskan akidah umat, di pesantrennya beliau juga mengundang ulama-ulama besar baik dari Jakarta, Bandung , Yogyakarta dan daerah lainnya dan dari manca negara seperti Malaysia, Saudi Arabia, Turki, Irak bahkan ulama dari rusia demi. Hal ini beliau lakukan demi memperkaya pengetahuan umat akan ajaran-ajaran Islam dan tentunya untuk membangun tatanan masyarakat yang islami. (Sumber: Suryana Sudrajat, Jejak Ulama Banten, 2008, 49-55)

Krakatau terus tumbuh dan berkembang
Populasi penduduk di selat Sunda baik pulau Sumatra dan Jawa juga tumbuh dan berkembang
Apakah Krakatau masih potensial meletus, bagaimana perspektif ilmu pengetahuan?
Hanya Allah pelindung kita 
Penulis: Oji Fahruroji

Advertisements