Tags

, , , , ,

Oleh: Oji Fahruroji

Genteng Batavia Tan Liok Tiauw (Foto: Oji Fahruroji)

Benda peninggalan masa lampau dapat menjadi pintu gerbang untuk kita mengetahui sejarah suatu bangunan terlebih bangunan tersebut memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat seperti gedung pemerintahan, militer, rumah ibadah dan lainnya. 

Genteng Tan Liok Tiauw adalah sebuah genteng yang memiliki nilai sejarah tinggi dalam sejarah perindustrian dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia, genteng tersebut memiliki ukuran Panjang sekitar 50 Cm dan Lebar 30 Cm dan hampir dua kali lebih tebal genteng saat ini yang diproduksi. 

Nama Tan Liok Tiauw berasal dari nama Tan Liok Tiauw Sia, Landheer van Batoe-Tjepper (1872 – 1947) adalah seorang tuan tanah dan tokoh Peranakan yang berperan sebagai pelopor industri dan perkebunan di Hindia Belanda. Ia lahir pada tahun 1872 di Batavia, dan adalah putra sulung dari baba bangsawan Tan Tiang Po, Luitenant der Chinezen. Karena ayah Tan Liok Tiauw Sia penjudi kelas berat, keuangan keluarga merosot sekali di akhir abad ke-19. Untuk kebaikan bersama, sang ayah menyerahkan warisan keluarga kepada Tan Liok Tiauw Sia saat ia baru berusia 17 tahun. Selain Batoe-Tjepper, ia mewarisi tanah-tanah partikelir yang antara lainnya adalah Rawa Boeaja dan Kapoek. Untuk memulihkan kondisi finansial keluarga, ia mendirikan pabrik batu bata dan genteng Tan Liok Tiauw di Batoe-Tjepper. Sebagai saksi sejarah cikal-bakal industri di Tangerang, beberapa jalanan di Batoe-Tjepper masih menggunakan nama “Lio” yang berarti pembakaran bata dan genteng. (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tan_Liok_Tiauw_Sia)

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa industri genteng Tan Liok Tiauw di Batoe-Tjepper (Batu Ceper) Tangerang merupakan pelopor perindustrian yang saat ini berkembang pesat. Karena industri peloporlah produk genteng ini menyebar keberbagai daerah terutama di pulau Jawa khususnya bangunan-bangunan tua di Ibu kota Jakarta seperti di Kota tua dan wilayah lainnya. Menarik bagi penulis ketika menemukan genteng Tan Liok Tiauw pada sebuah mesjid Nurul Huda di Kp. Kadu Payung Desa Bama Kecamatan Pagelaran-Pandeglang sekitar 80 KM dari Batu Ceper Tangerang, keberadaan genteng tersebut secara implisit menginformasikan bahwa masjid itu memiliki nilai sejarah bagi masyarakat sekitar Desa Bama, Bahkan Pandeglang. Karena menurut tradisi lisan masyarakat Bama mesjid ini diperkirakan berdiri pada 1905 M dengan perbandingan rumah disampingnya yang dituliskan tahun 1333 H/1912 M artinya rumah tersebut tujuh tahun lebih muda dari mesjid tersebut, selain itu bagian atas (kubah) mesjid tersebut pernah mengalami kerusakan akibat di bon tentara Belanda pada masa menjelang akhir penjajahan agresi militer Belanda yang pertama. Hipotesa ini akan semakin terang benderang ketika dikaitkan dengan latar belakang Pandeglang khususnya dan Banten sebagai daerah yang kaya akan sejarah baik itu keagamaan, tokoh pejuang, teknologi, pelabuhan  seperti sejarah pemerintahan/kesultanan Banten, Syekh Asnawi Caringin, adat istiadat dan budaya masyarakat Bama, perekonomian di sekitar pasar Labuan (pelabuhan), pergerakan perlawanan terhadap kolonial tahun 1928 dan sekelumit sejarah lainnya periode akhir abad 19.

Gerbang Depan Mesjid Nurul Huda Bama (Foto: Oji Fahruroji)

Menarik untuk terus diteliti tentang sejarah mesjid tersebut selain dari ciri fisiknya yang sebagian masih bangunan asli dan menyimpan beberapa benda peninggalan seperti koper, tongkat/tombak, senjata tajam, alat perang, lampu pijar dan lain sebagainya dari kehidupan masyarakat terdahulu yang akan semakin memperkaya bahan dan aspek penelitian di kesempatan selanjutnya.

Advertisements