Tags

, , , , , , , , , , ,

Oleh: Oji Fahruroji

I. Pendahuluan

Sejarah adalah pengetahuan yang tak Terelakkan lagi untuk di pelajari, melalui sejarah kita akan belajar bagaimana seharusnya sesuatu disikapi agar sesuatu tersebut menjadi mutiara hidup kita.

Menengok sejarah meletusnya Krakatau bagi sebagian orang adalah kengerian dengan sebutan Suara terkeras dimuka bumi dan letusan terdahsyat yang terekam di era modern pada 27 Agustus tahun 1883 karena sampai dengan hari ini hantu letusan lanjutan gunung berapi di selat Sunda tersebut menurut ilmuan masih aktif dan sisa letusan Krakatau tersebut terus tumbuh setiap tahunnya.

Literasi mengenai Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883 cukup banyak dituliskan terutama di berbagai media internet dengan sudut pandang dan lokasi penelitian yang variatif. Melalui tulisan ini penulis akan mencoba mendeskripsikan dampak letusan Krakatau di wilayah Sekitar Caringin pada tahun 1883, Caringin menarik untuk dikaji karena dari perspektif historis Caringin lama memiliki sejarah besar sebagai keregenan atau kapupaten dengan sumber informasi kepustakaan dan menggali tradisi lisan yang hidup dan diakui disekitar Caringin.

II. Pembahasan

a. Letusan Gunung Krakatau Tahun 1883

Letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883 merupakan peristiwa yang sangat berpengaruh terhadap perubahan sosial, politik dan iklim/cuaca, bermula dari Mei krakatau memperlihatkan gejala letusan kemudian tanggal 26 dan 27 agustus 1883 terjadi letusan besar terakhir terdengar hingga 3.000 dan ada yang menyebutkan 4.653 KM mil jauhnya diperkirakan sampai Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II, kita tak dapat membayangkan bagaimana kondisi kota-kota di pulau Sumatera khususnya kota Lampung dan Jawa yang secara geografis dekat dengan Krakatau seperti kota Cilegon, Serang dan Pandeglang-Banten jika ledakan itu terjadi  dewasa ini dengan populasi penduduk dan bangunan yang sangat berbeda dengan tahun 1883.

Ledakan menimbuldan 20 juta ton sulfur dilepaskan ke atmosfer; menyebabkan musim dingin vulkanik dan letusan gunung api paling hebat dalam sejarah. dua pertiga bagian Krakatau runtuh dalam sebuah letusan berantai, melenyapkan sebagian besar pulau di sekelilingnya. Aktivitas seismik tetap berlangsung hingga Februari 1884. Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya. Dampak letusan ini juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia.Pada tengah hari tanggal 27 Agustus 1883, hujan abu panas turun menghujani dan tsunami menggeliat dengan ketinggian variatif yang berdampak besar terhadap wilayah di sekitar Krakatau.Kapal-kapal yang berlayar jauh hingga ke Afrika Selatan juga melaporkan guncangan tsunami, dan mayat para korban terapung di lautan berbulan-bulan setelah kejadian.

(Sumber: Wikipedia, Kaskus-Krakatau Tempoe Duloe dll.)

b. Dampak Letusan Gunung Krakatau di Sekitar Caringin Tahun 1883

Semenjak 133 Tahun lalu Krakatau Meletus dahsyat, Caringin saat ini adalah desa yang letak geografisnya di bibir pantai selat Sunda berjarak sekitar 37 KM dari kota Pandeglang, Desa Caringin Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang-Banten memiliki pesona tersendiri yang mengundang wisatawan untuk berkunjung baik wisata alam, buatan dan religi. Pantai yang eksotis, rekreasi buatan dengan Waterboom nya dan ziarah tokoh pejuang dan ulama besar yaitu Syekh Asnawi bin Abdurroman, meskipun kini tergolong wilayah yang heterogen akan tetapi Kultur sosial masyarakat Caringin masih sangat melekat dengan Islam karena sampai saat ini masih terdapat sejumlah pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam, peninggalan historis yang masih terjaga yaitu masjid As Salafi dan sekolah Masyariqul Anwar Caringin yang dibangun pasca Meletus Krakatau 1883.

Menganalisis Caringin pada masa Meletus Krakatau tahun 1883 akan membawa kita berpetualang ratusan tahun silam, pada 1816 Regen Caringin Tb Wirajaya (Regen Boncel) sebagai Regen yang kedua masa penjajahan Portugis adalah anak seorang ahli gergaji di Rumpin-Bogor yang di minta untuk dijadikan pembantu seorang Regen dari Garut yang dimutasi ke Caringin, namun belum ditemukan sumber berakhirnya masa Regen Boncel dan siapa penggantinya, akhir kisah Regen Boncel berakhir dengan kisah ‘kedurhakaan’ pada ibunya yang datang ingin bertemu dengan sang anak namun karena keangkuhan tidak ingin diketahui sang Regen ber ibu kan dari kalangan biasa sampai Regen Boncel tidak menemui sang ibu yang akhirnya kembali berjalan kaki menuju pulang ke bogor dengan menyumpahi agar boncel terserang penyakit dan tidak memiliki turunan, bagaimanapun Regen Boncel memiliki nurani setelah dibujuk sang isteri, Boncel kemudian mengejar sang ibu dengan menunggangi kudanya sendiri, namun malang sampai di Kp. Dangur (Desa Tenjolahang) kuda Boncel terkilir kakinya sehingga tidak bisa melanjutkan pengejarannya untuk meminta maaf dan membawa pulang sang ibu. Sang Regen yang berwibawa dikabarkan terjangkit penyakit gatal sekujur tubuhnya dan meninggal dunia.

(Diskusi bersama Sesepuh Caringin) 

Sejarah keregenan Caringin harus berakhir bersamaan dengan kedatangan Tsunami Besar akibat letusan Krakatau 1883, Sebuah Telegram di terima Singapura pada 28 Agustus 1883 Pukul 11.00 dari Pemerintah kolonial Belanda menyebutkan Anjer, Tjeringin dan Telok Beting hancur lebur dan informasi setengah jam kemudian dikabarkan Mercusuar di selat Sunda menghilang oleh Tsunami dengan ketinggian berkisar 40 Meter (Kompas.com). Keregen Caringin dipindahkan ke Menes dan pada akhirnya dipindahkan ke Pandeglang, status keregenan Caringin selanjutnya menjadi Kewedanaan dan saat ini hanya menjadi desa di Kecamatan Labuan Kabupaten Pandeglang-Banten.

Meletusnya krakatau Tahun 1883 dan pengaruhnya terhadap peninggalan keregenan Caringin, hipotesa sementara yang bisa diambil yaitu bukti peninggalan keregenan Caringin telah hilang disapu arus Tsunami yang lokasi keregenan Caringin di sekitar lokasi makam Regen boncel di Desa Pejemben, karena menurut penuturan tokoh setempat kata Pejemben sendiri berasal dari kata Pejemben yang memiliki arti pendopo tidak jauh dari lokasi tersebut ada sebuah gedung rombeng di bibir pantai Caringin yang berfungsi sebagai mesjid yang luasnya 8500 M dan musnah diterjang Tsunami tanpa tersisa.

Tradisi lisan lainnya menyebutkan bahwa ketika sebelum tsunami tahun 1883 Syekh Asnawi telah bermukim di Caringin karena melihat gejala alam dan firasatnya akan ada musibah besar maka syekh Asnawi mengungsi ke Muruy dan sumber lain mengatakan ke Janaka-Jiput, dan kembali ke Caringin 10 tahun kemudian yang selanjutnya membangun mesjid, pesantren dan merintis sekolah Masyariqul Anwar Caringin bersama tokoh Caringin lainnya.

III. Kesimpulan

Tsunami Krakatau terjadi pada 27 Agustus 1883 yang dampaknya 3.000 dan ada yang menyebutkan 4.653 KM mil jauhnya diperkirakan sampai Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika dan merenggut korban jiwa dan kerusakan luar biasa. Dampak Letusan gunung Krakatau tahun 1883 di Sekitar wilayah Caringin menyapu pemukiman masyarakat disana dan memusnahkan jejak peninggalan sejarah keregenan Caringin masa setelah Regen Boncel dan setelah tsunami masa syekh Asnawi sebagai Ulama dan Pejuang. Setelah Tsunami Keregenan Caringin di pindahkan ke Menes dan akhirnya ke Pandeglang hingga Pandeglang menjadi kabupaten sampai saat ini.

(Digali dari berbagai sumber)


133 Tahun lalu  Letusan Dahsyat Gunung Krakatau, sebuah tanda tanya besar untuk Krakatau dimasa depan.

 

Advertisements