Kerajinan Emping dan Masa Depan Agroindustri Emping di Kecamatan Jiput

Oleh: Oji Fahruroji

I Pendahuluan
Kerajinan emping di Kecamatan Jiput Kabupaten Pandeglang-Banten merupakan warisan dari generasi kegenerasi yang menjadi salah satu sumber perekonomian sebagian warga Jiput, yang saat ini telah menjadi oleh-oleh khas Pandeglang-Banten, emping yang bahan bakunya buah melinjo (Jiput: Sake/Tangkil) diunduh ketika sudah tua dengan ciri kulit yang berwarna merah dan biji yang berwarna hitam kecoklat-coklatan, setelah melinco diambil kemudian dikupas sampai kulit dan bijinya terpisah, saatnya proses dapur produksi, peralatan untuk produksi emping di Jiput masih menggunakan alat tradisional.

II) Kerajinan Emping dan Masa Depan Agroindustri Emping di Kecamatan Jiput
1. Proses Produksi Emping dan Peralatan yang dibutuhkan yaitu:
a. Batu alam yang datar dan memiliki lebar -+ 40 cm2 berbentuk bulat maupun lonjong yang berfungsi untuk menampa buah melinjo ketika di olah
b. Batu Alam yang berdiameter -+ 7 cm2 berbentuk bulat yang berfungsi untuk menumbuk dengan cara memukul-mukul sekaligus membentuk buah melinjo agar menjadi emping yang tipis dan berbentuk bulat
c. Penyosok biasanya terbuat dari besi/kaleng yang berfungsi untuk mengangkat emping dari batu penampa
d. Alat penjemur yang terbuat dari pohon kiray yang berukuran 60×50 cm2 dibuat seperti model anyaman, emping ditempelkan secara tersusun dan kemudian dijemur sampai kering dan berwarna putih kekuning-kuningan
e. Kuali tanah liat yang berisi pasir untuk menyangrai buah melinjo
f. Alat pengambil melinjo yang disangrai dalam kuali berpasir ketika sudah matang.

2. Pengrajin Emping
Proses pembuatan emping membutuhkan keahlian khusus agar melinjo yang diolah menjadi emping yang bulat dan tipis sehingga ketika dimasak menjadi renyah, pengrajin emping didominasi kaum hawa dengan usia lanjut karena produsen emping ini rata-rata dilakukan oleh ibu rumah tangga (IRT) yang dalam seharinya bisa memproduksi 10 s/d 20 liter melinjo, kerajinan emping tergolong cukup mudah, meskipun tetap membutuhkan ketelatenan dan keahlian, tingkat kesulitan produksi emping bergantung pada jenis dan ukuran emping itu sendiri. Sesuai dengan proses perkembangan jaman dan trend urbanisasi mempengaruhi jumlah pengrajin emping yang terus berkurang padahal apabila ditekuni penghasilan pengrajin emping bisa melebihi hasil dari buruh pabrik dan lain-lainnya.

3. Jenis dan ukuran yang banyak diproduksi yaitu ukuran 4-5 melinjo dalam satu buah emping, ada juga jenis emping yang ukuran 1-2 biji melinjo yang biasanya ada olahan lanjutan menjadi emping rasa (sedap/gurih, manis dan pedas), tingkat kesulitan yang paling tinggi yaitu emping besar yang membutuhkan sekitar 15-25 biji melinjo untuk satu buah emping.

4. Prospek Agrobisnis Emping
Produksi emping di Jiput sudah berjalan cukup lama dan menjadi aktivitas sebagian warga terutama ibu rumah tangga (IRT) dan menjadi salah satu sumber penghasilan warga, selain produksi empingnya, perkebunan melinjo dan jual beli melinjo maupun empingnya di pasar lokal dan daerah lain seperti Jakarta dan sekitarnya ikut menggerakan perekonomian warga, permintaan emping tergolong stabil bahkan terus mengalami peningkatan baik di dalam maupun luar negri, artinya berwirausaha dibidang emping cukup aman dan menguntungkan serta berjangka panjang.

5. Perkebunan Melinjo di Jiput dan sekitarnya
Perkebunan melinjo di Jiput tidak terpadu pada satu area perkebunan, akan tetapi tersebar di tanah milik warga, populaasi pohon melinjo dari waktu ke waktu terus mengalami penurunan yang diakibatkan tumbang karena usia tua, sengaja ditebang, mati dan sebagainya sedangkan disisi lain warga tidak menanam kembali, fakta tersebut otomatis mengurangi jumlah pohon melinjo yang hidup dan dari waktu ke waktu kemudian akan mengurangi penghasilan buah melinjo dan memungkinkan akan menghambat proses produksi melinjo apabila tidak segera diambil langkah-langkah solutif.
Para pengrajin emping di Jiput untuk mendapatkan melinjo saat ini harus mencari ke pasar luar dari jiput seperti ke daerah Carita, Cibaliung, Rangkas Bitung (Lebak) dan wilayah lainnya dengan jarak dan cost tinggi karena telah terjadi kelangkaan. Pemerintah kabupaten Pandeglang diharapkan memperhatikan situasi dan kondisi sektor emping saat ini agar populasi pohon dan pengrajin emping tetap stabil bahkan meningkat, hal-hal yang bisa diupayakan diantaranya:
a) Membuka lahan perkebunan buah melinjo seluas-luasnya untuk ketersediaan melinjo dimasa yang akan datang di Kecamatan Jiput khususnya dan wilayah lain
b) Memberikan bantuan bibit melinjo kepada warga
c) Membuat wadah produksi, dapur produksi dan koperasi agrobisnis buah melinjo dan emping
d) Mencari pasar dan promosi emping jiput dan wilayah lain di kabupaten Pandeglang baik dalam maupun mancanegara.
e) Bantuan pemodalan untuk pengusaha dan pengrajin emping.
f) Memberikan pelatihan produksi dan agroindusti emping

6. Kesimpulan
Sektor agrobisnis emping telah diakui menjadi ciri khas kabupaten Pandeglang yang pasarnya sudah luas baik didalam maupun diluar negri, dan menjadi salah satu kegiatan perekonomian warga Jiput Kabupaten Pandeglang dari waktu kewaktu, akan tetapi saat ini sektor agroindustri emping menghawatirkan baik ketersediaan buah melinjo maupun pengrajin empingnya, Oleh karena itu pemerintah daerah setempat harus mengurai kesetabilan agroindusti emping dari hulu ke hilir mulai dari kelestarian pohon melinjo, produksi emping dan pemasarannya sehingga emping sebagai khas oleh-oleh Pandeglang tetap lestari dimasa yang akan datang.

Sumber:
*Pengamatan penulis di Desa Tenjolahang Kecamatan Jiput Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten
*Komparasi dengan produsen wilayah lain

Posted from ojifahrurojiindonesiani for World.

Advertisements