Ada Yang Bertepuk Tangan, Ada Yang Bertepuk Dada. Sebuah Konsekuensi Demokrasi

Oleh: Oji Fahruroji

Menang atau Kalah adalah logika kompetisi, sebuah kenyataan dalam kehidupan dimana manusia harus menerima sebuah hasil yang memposisikan dirinya sebagai pemenang atau orang yang tersisihkan. Pertanyaannya apakah sebuah kemenangan itu adalah kemaslahatan? Hal ini didukung dengan filosofi dari demokrasi itu sendiri yang meletakkan mayoritas adalah pemenang (suara terbanyak) meski faktanya penguasa yang mendapatkan persentasi 50 1 s/d “99%” pun ada yang mengecewakan seperti melakukan korupsi dan penyimpangan lainnya, dan kondisi inilah menuntut eksistensi hukum untuk mengadilinya, disisi lain potret buram sistem demokrasi ini menjadi tantangan masyarakat, para pemikir dan pihak yang berwenang untuk terus mencari model yang tepat sebuah sistem yang jujur, adil, efektif dan efisien dalam konteks pemilihan pemimpin yang ideal dengan berprinsip musyawarah untuk mufakat.

Dalam konteks politik demokrasi kemenangan dan kekalahan itu bersifat relatif, karena politik itu dinamis menyesuaikan dengan manuver politik yang diambil oleh lawan, bisa saja hari ini menjadi lawan namun keesokan harinya menjadi kawan dan sebaliknya, saat ini menyatakan oposisi namun kenyataannya masuk dalam komposisi struktur lawan politiknya yang berkuasa.

Kekalahan dalam konstelasi politik dengan model demokrasi ala Indonesia saat ini baik Pemilihan Presiden, Pemilihan Gubernur, Pemilihan Bupati bahkan sampai Pemilihan Kepala Desa, tercermin dari kenyataan yang telah terjadi dimana pihak yang kalah menggugat hasil dari pemilihan dengan alasan kecurangan (deseitfulness) dengan melakukan Judicial Review ke Mahkamah Konstitusi ataupun cara lain bahkan terjadi tindakan anarkis yang memakan korban sebagai upaya inkondusifitas.

Lalu, apakah kekalahan akan tetap berujung dengan penolakkan hasil dan upaya menggugat? Atau demokrasi kita akan tetap diwarnai dengan konflik dan sikap anarkis yang memakan korban? Tentunya dalam sebuah kompetisi suatu gesekan-gesekan akan mungkin terjadi tinggal bagaimana dapat diminimalisir dan tidak merugikan semua pihak masyarakat khususnya serta didukung dengan mekanisme yang menghindari konflik. “Ada yang bertepuk tangan, ada yang bertepuk dada. Sebuah Konsekuensi Demokrasi”. Tepuk tangan para pemenang sebagai selebrasi jangan sampai berleihan yang membuat pihak yang kalah panas kuping oleh keriuhan, sebaiknya selebrasi kemenangan secepat mungkin merangkul semua pihak dengan menyatakan bahwa kemenangan ini adalah kemenangan bersama dan dengan cara ini pihak yang kalah akan menerima “bertepuk dada” dan pada akhirnya menyatakan bahwa kompetisi telah selesai dan semua pihak bersatu memulai untuk membangun masa depan.

Advertisements