Dilema Etika Sosial, Mengingatkan atau mempermalukan?

Tag

, ,

Ingat mengingatkan adalah bagian dari fungsi sosial, agar dapat saling mengontrol satu sama lain ketika orang terdekat mulai keluar dari jalur atau norma. Maka keluarga atau orang terdekat memiliki kewajiban untuk mengingatkan.

Fungsi kontrol saat ini telah menjadi lembaga sebagaimana fungsi legislatif, bahkan dalam setiap korporasi terdapat sebuah badan yang memiliki fungsi tersebut. Tujuan kontrolling dapat memiliki makna mengingatkan kepada orang yang ada di dalamnya.

Lalu apakah dalam mengingatkan seseorang ada etika didalamnya? Ini pemikiran subjektif dari penulis.

Mengingatkan memiliki etika, karena kalau tidak maka tujuan baik akan menjadi buruk. Ketika seseorang diingatkan bukan pada tempat yang tepat maka orang yang diingatkan tidak akan menerima. Mengingatkan di depan muka umum apalagi yang tidak memiliki kaitan masalahnya bisa berarti mempermalukan orang yang diingatkan.

Iklan

Kalah Menang adalah Kita

Tag

, , ,

Baru-baru ini kata “Perang” Booming menjadi topik utama pemberitaan ditengah-tengah panasnya konstelasi politik. Diawali statemen satu kubu tentang “perang total” dibalas dengan puisi “perang badar” oleh kubu lainnya. Sehingga perdebatan meluas sampai pada warung kopi masyarakat di penjuru nusantara.

Mencuatnya kata “perang” Membuat keresahan pada masyarakat luas karena memang tidak dapat dipungkiri bahwa cuaca politik kian memanas. Panasnya tensi politik dapat terlihat dengan mata telanjang setidaknya di media sosial menjadi Perang urat saraf yang terkadang mengandung unsur fitnah, black campaign, berita sesat diantara kubu. Produksi fitnah dan sejenisnya massif berkeliaran meskipun pada saat yang sama dua kubu menyatakan perang terhadap berita hoax.

Dua bulan menjelang april 2019 menjadi waktu yang panjang bagi masyarakat jika terus dihiasi dengan manuver politik Cowboy. Sehingga muncul kekhawatiran akankah terjadi serang menyerang melalui tembakan pistol?

Tentu kita tidak berharap peperangan terjadi apalagi antar anak negeri. Pengkotak-kotakan masyarakat berdasarkan bedanya pilihan harus diposisikan kembali pada konteks yang sesungguhnya. Perbedaan adalah suatu kenyataan yang harus diterima, perbedaan jangan sampai dimaknai sebagai batasan sehingga membuat rusaknya keakraban sebagai warga negara.

Pilpres adalah proses menuju perubahan, ganti atau tidaknya presiden juga sebuah kenyataan selama itu dilakukan secara konstitusional. Perang dalam arti meraih tampuk kekuasaan harusnya ditunjukkan dengan sikap-sikap negarawan.

Gak suka Politik?

Tag

, , , , , , , ,

Bulan April 2019 adalah bulan panen bagi politisi, bulan penentuan dari strategi dan taktik yang selama ini diterapkan. Meraih suara sebanyak-banyaknya adalah impian bagi anggota partai politik terutama para calon mulai dari Presiden, Legislatif, DPD, di semua tingkat.

Politik adalah seni mempengaruhi (influence) agar mengikuti keinginan politisi. Oleh karena itu politisi dengan segenap energinya dikeluarkan agar semakin banyak dukungan masyarakat. Seni mempengaruhi ternyata tidak mudah dilakukan, faktanya tidak sedikit orang apatis terhadap politik.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara hajat rakyat seluruh Indonesia dalam memilih pemimpinnya memiliki tanggung jawab agar memaksimalkan partisipasi warga negara dalam pemilihan. Jika melihat angka partisipasi pemilih pada Pilpres 2014 berdasarkan data yang dilansir KPU sebesar 69,58 persen sebagaimana diberitakan dalam detik.

Apakah partisipasi pada April 2019 akan meningkat?, Jika mengamati perkembangan perhatian masyarakat H -1 bulan ini terhadap pemilihan umum semakin signifikan dan menjadi indikasi akan semakin tingginya partisipasi politik, setidaknya diskusi-diskusi masyarakat dan aktifitas media sosial yang gemar membahas politik.

Maksimalnya partisipasi politik yang dimaksudkan dalam tulisan ini bukan sekadar meningkatnya angka pemilih akan tetapi pada saat yang sama harus dibarengi dengan semangat berdemokrasi yang dewasa. Mulai dari Visi misi dan sikap negarawan para politisi menjelang pemilihan sewajarnya ditunjukkan.

Trend meningkatnya perhatian masyarakat akhir-akhir ini sayangnya disertai juga isu SARA, Hoax, dan panasnya perang statemen di media yang kurang pantas ditunjukkan oleh mereka sebagai calon pemimpin.

Oleh karena faktor-faktor di atas justru berpotensi membentuk kubu masyarakat yang antipati terhadap politik. Belum lagi pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan juga telah mewarnai masa kampanye ini, karena dilapangan masih ditemukan tindakan pelanggan seperti money politik, teror, keterlibatan aparatur sipil negara (ASN), penempatan alat peraga kampanye (APK) dan pelanggan kampanye lainnya.

Apatisme masyarakat juga bisa terbangun ketika Melihat perangkat statement di media baik televisi, media sosial, surat kabar dan sebagainya. Karena jika menyimak seperti dibeberapa acara talk show dua kubu yang saling serang disertai juga dengan kalimat-kalimat yang membuat mata dan hati masyarakat ikut panas.

Debat adalah suatu keharusan dalam kompetisi tapi bukan berarti mencaci maki, debat akan lebih berkualitas dengan dialektika yang penuh kesantunan.

Saat nyawa dan raga sudah terpisah

Apakah kita sudah siap menghadapi kematian?

Kematian seperti apa yang kita inginkan?

Apa yang kita tinggalkan di dunia setelah kita mati?

Bagaimana kehidupan kita di alam setelah kematian?

Mati dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) memilki arti tidak bernyawa adalah suatu kondisi yang pasti setiap manusia alami, namun tidak ada yang pernah tahu kapan waktunya, umur berapa, apa penyebabnya, dan rahasia lainnya yang tidak pernah diketahui.

Mati adalah saat raga dan nyawa (ruh) terpisah, mengenai penyebabnya secara logika dapat diketahui melalui pemeriksaan medis. Tapi dalam agama diketahui bahwa kematian adalah suatu takdir yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Apakah kita sudah siap menghadapi kematian?

Kematian seperti apa yang kita inginkan?

Apa yang kita tinggalkan di dunia setelah kita mati?

Bagaimana kehidupan kita di alam setelah kematian?

Jawabannya bahwa kita harus siap, setidaknya masih ada waktu untuk melakukan segala sesuatunya.

Jika nyawa dan raga sudah terpisah maka eksistensi kita di dunia tak ada lagi.

Masih ada waktu untuk belajar, masih ada waktu untuk kita merenungkan kehidupan.

Filosofi Babacakan, Sebuah Tradisi Persatuan Masyarakat di Pandeglang

Babacakan Sebauah tradisi Masyarakat

“Ketika daun pisang utuh digelar, segera nasi dihamparkan disusul sambal dan ikan yang telah matang di bakar. Pada kondisi inilah personil memposisikan diri dengan formasi yang telah ditentukan”

Babacakan (makan bersama) adalah salah satu gambaran karakter masyarakat Desa, bukan ritual ataupun acara sakral yang diawali dengan sesajian dan baca-bacaan.

Babacakan adalah penjelmaan kearifan lokal masyarakat desa, biasanya babacakan dilakukan ditengah-tengah atau setelah selesai acara bersama seperti setelah melakukan musyawarah, gotong royong, atau momen kumpul pemuda desa.

Babacakan bukan sekedar makan bersama, akan tetapi memiliki makna. Setidaknya menggambarkan kehangatan antar warga masyarakat desa.

Budaya Babacaka banyak dilakukan di berbagai belahan nusantara dengan sebutan yang berbeda-beda. Uniknya budaya babacakan di Pandeglang sangat anti-mainstream dengan tetap mempertahankan pemanfaatan alam seperti menggunakan daun pisang sebagai alas.

ILC warung kopi

Tag

, ,

Ada pencuri yang diGEBUKin maling, atau si koruptor menasehati kiyai, Paling gawat kalau kiyai jadi koruptor. Akankah carut marut ini terjadi di negara yang kita cintai, ataukah sudah terjadi, Sebegitu akutkah di negeri kita?

Nongkrong di warung kopi terkadang bagai menjadi undangan ILC, di warung kopi pula seolah menjadi kelas materi politik yang up-to-date.

Pemilik warung seketika menjelma berperan sebagai Karni Ilyas, Ia dengan fasih membuka acara diskusi dengan suatu topik. Pada kesempatan ini adalah “Carut Marut Wajah Politik di Indonesia, Menjelang Pilpres 2019″.

Moderator memaparkan bahwa 2 (dua) bulan menjelang pesta demokrasi para elit politik tak segan-segan telah saling menelanjangi keduanya. Seolah-olah jangankan ada sedikit celah masalah yang dilakukan, ketika tidak adapun maka borok masa lalu diviralkan kembali. Simpulnya ” Apakah Carut Marut Wajah Politik di Indoensia dapat diperbaiki agar kembali menjadi kompetisi politik yang beradab? ”

Jika peperangan tanpa rambu seperti ini terus terjadi maka celah disintegrasi semakin menganga, masyarakat bukan terbelah dua lagi tapi akan menyasar perpecahan yang lebih besar dan public trust terhadap pemerintah semakin tak terbendung.

Masyarakat sudah gusar dengan perang terhadap koruptor yang tiada habis-habisnya, Narkoba yang terus menjatuhkan korban, distorsi nilai yang terus memburuk ditambah saat ini tontonan di media tentang kekacauan dalam konstelasi politik tahun 2019.

Sudah saatnya elit politik dari kubu manapun memahami psikologis masyarakat luas yang sudah lelah akan situasi saat ini. Karena Jika elit di atas saja bagaikan jawara pencak silat dan Jagoan Tinju yang dipertemukan diatas arena, bagaimana masyarakat dibawah jika becermin terhadap perilaku elit di atas maka kekacauan tak dapat terelakkan.

Akan lebih baik pro-kontra yang terjadi dikemas dengan akhlak, sikap santun ataupun etika politik yang mendidik masyarakat kita. Jangan lagi membeli suara masyarakat dengan segepok uang, ataupun membeli simpati masyarakat dengan memfitnah lawan.

Masyarakat kita sudah sangat cerdas dalam menilai situasi.

Baca lebih lanjut

Benteng Peninggalan Jepang di Caringin (Edisi Revisi)

Tag

,

Nama Objek: Benteng Peninggalan Jepang
Alamat: Kp. Caringin Ds. Pejamben Kec. Carita Kab. Pandeglang Banten
Waktu: Sabtu, 10 Maret 2012
Pukul: 14.00 WIB s/d 17.00 WIB
Team: Oji Fahruroji & Hendar Kiswanto (SEMESTA RESEARCH)

Menurut penuturan warga disekitar, bahwa benteng ini merupakan peninggalan kolonial Jepang yang digunakan sebagai benteng pertahanan. Meskipun ada yang berpendapat bahwa benteng tersebut adalah peninggalan kolonial Belanda sebagaimana tulisan kami sebelumnya akan tetapi setelah melakukan penelitian lebih lanjut kami mengambil kesimpulan bahwa bangunan ini lebih dipercayai merupakan peninggalan kolonial Jepang dengan membandingkan dan menganalisis jenis bangunannya.

Lokasi bangunan yang kami teliti beralamat di Kp. Caringin Ds. Pejamben Kec. Carita kab. Pandeglang-banten, letak geografis bangunan tersebut kesebelah barat berjarak sekitar 1000 meter dari pantai laguna-caringin.

Penelitian kali ini dapat dikatakan untuk pertama kalinya dilakukan oleh aktivis SEMESTA RESEARCH dengan fasilitas penelitian seadanya oleh karena kami sadar akan keterbatasan fasilitas maupun wawasan kami dalam melakukan penelitian ini, akan tetapi kami berprinsip learning by doing dan tentunya dengan semangat kebersamaan kami memulai penelitian tersebut.

Berawal dari cerita masyarakat dan secara kebetulan Benteng yang diteliti itu dekat tempat tinggal salah satu aktivis SEMESTA RESEARCH dan tempat bermain semasa kecilnya, setelah melakukan beberapa kali diskusi kami semakin termotivasi untuk terjun langsung kelapangan, hasilnya akan kami uraikan beserta foto-foto dilapangan di bawah ini :

Menurut penuturan warga yang tinggal di lokasi bangunan benteng ini adalah peninggalan kolonial Jepang saat menjajah Indonesia sebagai markas maupun benteng pertahanan nereka. Benteamai bangunan tersebut menyesuaikan dengan alamat keberadaannya yaitu BENTENG JEPANG CARINGIN meskipun belum tentu bahwa objek yang kami teliti adalah benteng ataupun bangunan lainnya yang dibangun dan digunakan colonial, sebagaimana dapat dilihat dalam gambar bangunan berada di tengah-tengah pesawahan warga dan disekitarnya telah tumbuh pepohonan pemilik tanah dan ditumbuhi rumput-rumput yang menutupi atas bangunan tersebut.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas sebagian sumber inspirasi penelitian ini adalah tradisi lisan masyarakat setempat, salah satu sumber mengatakan bahwa bangunan itu adalah benteng colonial Jepang yang memiliki terowongan ke pesisir pantai Laguna (Caringin) bahkan ke benteng di Teluk (Labuan) yang jaraknya berkisar 2000 meter, keterangan di atas masih bersifat nisbi karena tanpa bukti-bukti fisik akan tetapi bukan berarti tidak mungkin tentang keberadaan terowongan tersebut karena kami telah mengetahui keberadaan benteng di pesisir pantai teluk yang dimaksud akan tetapi meskipun keberadaan benteng di Pantai Teluk itu benar belum tentu memiliki terowongan ke Benteng Jepang di Caringin yang sedang diteliti.

Waktu dibangunnya benteng tersebut belum dapat diketahui akan tetapi sesuai dengan tradisi lisan warga sekitar bahwa Bangunan tersebut adalah benteng pada masa colonial Jepang yang menjajah ke Indonesia dari tahun 1942-1945, artinya sementara ini kami hanya mengetahui periodenya saja sedangkan untuk tanggal, bulan dan tahunnya belum kami ketahui.

Hasil penelitian sementara dari segi Ukuran bangunan ini memiliki panjang 5 meter dan lebar 4 meter diukur dari bagian atas bangunan yang bersegi empat sedangkan untuk tinggi kami belum mendapatkan hasil dikarenakan bangunan tersebut dalam posisi terpendam dan dapat dikatakan bangunan ini adalah ruang di bawah tanah dulunya diperkirakan setelah mengalami proses pembukaan lahan untuk dijadikan pesawahan ataupun pertanian lainnya disekitar bangunan tersebut mengalami penggalian, untuk mendapatkan ukuran tinggi kita harus melakukan penggalian akan tetapi apabila diukur dari dalam ruangan bangunan tersebut memiliki tinggi kurang lebih 2 meter, sedangkan ukuran di dalam ruangan kurang lebih berukuran 1 meter. Apabila kita berada diatas bangunan kita akan melihat dua lubang yang memiliki ukuran yang sama yaitu panjang 50 Cm dan lebar 20 Cm yang diperkirakan lubang tersebut berfungsi sebagai ventilasi atau penerangan kedalam ruangan, dinding bangunan tersebut memiliki ketebalan sekitas 50 Cm, bahan dasar bangunan ini terdiri dari batu sungai yang berukuran kecil, karang, pasir serta bahan plester yang belum dapat kami jelaskan secara detail.

Pintu masuk kedalam ruangan ini seperti yang dapat dilihat dari foto pintu masuk telah ditumbuhi rumput-rumput dan pepohonan setinggi badan dengan ukuran pintu lebar 70 cm dan tinggi 60 cm akan tetapi untuk tinggi pintu masuk bukan ukuran aslinya karena kedasar pintu dalam kondisi tertimbun tanah, hasil pengamatan kami bangunan tersebut sudah sering dimasuki oleh warga ataupun pemilik tanah sebagaimana foto di atas kami menemukan tulisan dari cat berwarna merah yang bertuliskan “DILARANG MASUK” akan tetapi kami belum mengetahui siapa inisiatornya.

Apabila kita masuk kedalam ruangan kita akan melewati tiga sudut ruangan, pertama dari pintu lurus kemudian kekiri dan kekanan untuk masuk kedalam ruangan inti, setelah kita berada di dalam ruangan inti di bagian barat kita akan menemui pintu yang ukurannya sama dengan ukuran pintu masuk yang telah dijelaskan di atas akan tetapi kami belum mengetahui menuju kemanakah pintu itu apakah kedalam ruangan lainnya ataupun pintu keluar karena kondisi pintu itu tertutup oleh tanah, jika kita berspekulasi bahwa pintu di dalam ruangan ini menuju ruangan lagi kemungkinan besar menuju keruangan bawah karena jika mendatar kemungkinan besar itu pintu keluar karena sekitar 4 meter dari pintu itu kesebelah barat adalah tebing pesawahahan warga, menurut pengamatan dan kajian kami pintu di dalam ruangan yang tertimbun tanah itu dapat menjadi jawaban untuk kita mengetahui fungsi dan jenis bangunan yang sebenarnya. tentunya untuk mendapatkan hasil yang lebih objektif kita harus melakukan penggalian dan penelitian lebih lanjut.

Ruangan dalam bangunan ini berukuran sekitar panjang dan lebar 3 meter dengan tinggi dari lantai ke atas sekitar 1 meter itupun bukan ukuran sebenarnya karena lantai dasarnya adalah timbunan tanah serta sampah-sampah seperti buah kelapa yang mengering dan material lainnya yang masuk melalui pintu ataupun lubang bersegi empat dibagian atap.

Pembahasan kita lanjutkan dari segi seni yang terdapat di dinding setiap ruangan, hasil penelitian kami menemukan ornament, interior ataupun seni yang terdapat di dinding bersegi empat yang cembung dan sebagai langkah untuk mengetahui seni dinding manakah yang dipakai dalam bangunan ini kami akan melakukan perbandingan dengan seni bangunan-bangunan lama lainnya.

Benda atau bangunan peninggalan masa lalu merupakan aset berharga bagi kita saat ini karena selain memiliki sisi keilmuan juga memiliki potensi ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat. Namun benda peninggalan sejarah di kabupaten Pandeglang khususnya belum sepenuhnya diperhatikan secara maksimal, semoga melalui penelitian yang masih jauh dari kaidah dan metode penelitian ilmiah namun menjadi informasi maupun langkah awal demi kelestarian benda dan bangunan bersejarah terutama yang belum ditetapkan sebagai benda bersejarah yang dilindungi.

Terimakasih

Kedamaian yang Nyata

Tag

Seperti tiupan angin dari timur ke barat

Meniup pepohonan alunkan melodi lembut

Membawa harum aroma bunga-bunga

Menerbangkan jiwaku bebas terbang bersamamu

Dari atas awan aku lihat bibir pantai

Ombak lembut menerpa pasir putih

Aku bermain bersama merpati putih

Sesekali berdiri digumpalan awan

Dari atas sini aku melihatmu

Ternyata bumi kita indah 

Aku berjanji segera kembali turun

Untuk berjalan kembali

Karena sebenarnya aku yakin

Di bumiku ada kedamaian yang nyata

Meski ada olok-olok, hinaan dan tangan yang mengucurkan darah

Sebenarnya bumi damai seperti yang kulihat dari sini

Aku kan segera turun

Aku rindu senyuman penuh keakraban itu

Atau menyaksikan anak-anak kecil melukis raja yang tampan dan adil

Dengan istananya yang megah dan ramai ketika pesta rakyat setelah panen yang melimpah

By. Oji Fahruroji

Bayangan

Tag

Seperti Bayanganku 

Kau setia mengikuti kemana saja

Pagi, siang dan malam pun

Kau hadir sangat dekat
Adakalanya aku bosan dibayangi

Atau malah aku takut terus diikuti

Karena bila kau terus menjadi bayanganku

Sedang tak mungkin lagi kau menjelma bukan sebagai bayangan
Apalagi ketika hujan dalam kesendirian

Atau malam menyandera bersama dingin

Meski mulai dari saat aku menerima kau lebih memilih menjadi bayang-bayang

Namun tak mudah rasanya menghadapi bayanganmu
Percuma berlari

Karena kau pasti mengikuti

Tak guna menghindari

Karena sebenarnya kau kini hanyalah sosok bayangan

By. Oji Fahruroji

NGAGEBOT PARE, Sebuah Tradisi Panen Padi di Pandeglang

Tag

, , , , ,

Pandeglang adalah sebuah kabupaten di provinsi Banten yang potensi Wilayahnya pegunungan dan perbukitan serta pantai yang cukup luas oleh karenanya rata-rata penghidupa masyarakat Pandeglang berasal dari pertanian, nelayan dan perdagangan. Berbicara pertanian di Pandeglang khususnya pertanian padi (Pesawahan). Maka kita akan menemukan hal unik yang ketika petani mulai memasuki masa panen. 

Sebagian masyarakat Pandeglang contohnya di Desa Tenjolahang kecamatan Jiput menyebut kata menuai padi yaitu dengan kata Ngagebot, yaitu proses pemisahan buah padi dari pohonnya dengan cara memukul-mukul​ kan satu ikat pohon padi ke kotak yang terbuat dari kayu hingga buah padi terpisah dari pohonnya. Kotak kayu biasanya berdiameter 2 (Dua) meter persegi, Jika kotak sudah terisi penuh oleh biji padi maka padi akan dimasukkan kedalam karung.

Jika proses ngagebot telah selesai, petani akan segera menjemur padi di bawah sinar matahari sampai buah padi kering dan siap di giling, setelah sebelumnya​ menyimpan sebagian padi untuk dijadikan bibit untuk ditanam kembali.

Ngagebot adalah mata pencaharian sebagian warga Pandeglang yang membutuhkan kekuatan fisik dan tenaga kuat karena meskipun terik matahari atau hujan turun ngagebot harus tetap dilakukan, meskipun demikian rasanya tidak berimbang antara tenaga yang dikeluarkan dengan upah yang tidak diterima. Semoga pertanian di kabupaten Pandeglang kedepannya bisa lebih maju dengan memanfaatkan teknologi tepat guna dengan harapan akhir mensejahterakan petani di wilayah Kabupaten Pandeglang-Banten

Follow Me:

@oji_fahrur

Oji Fahruroji