Benteng Peninggalan Jepang di Caringin (Edisi Revisi)

Tags

,

Nama Objek: Benteng Peninggalan Jepang
Alamat: Kp. Caringin Ds. Pejamben Kec. Carita Kab. Pandeglang Banten
Waktu: Sabtu, 10 Maret 2012
Pukul: 14.00 WIB s/d 17.00 WIB
Team: Oji Fahruroji & Hendar Kiswanto (SEMESTA RESEARCH)

Menurut penuturan warga disekitar, bahwa benteng ini merupakan peninggalan kolonial Jepang yang digunakan sebagai benteng pertahanan. Meskipun ada yang berpendapat bahwa benteng tersebut adalah peninggalan kolonial Belanda sebagaimana tulisan kami sebelumnya akan tetapi setelah melakukan penelitian lebih lanjut kami mengambil kesimpulan bahwa bangunan ini lebih dipercayai merupakan peninggalan kolonial Jepang dengan membandingkan dan menganalisis jenis bangunannya.

Lokasi bangunan yang kami teliti beralamat di Kp. Caringin Ds. Pejamben Kec. Carita kab. Pandeglang-banten, letak geografis bangunan tersebut kesebelah barat berjarak sekitar 1000 meter dari pantai laguna-caringin.

Penelitian kali ini dapat dikatakan untuk pertama kalinya dilakukan oleh aktivis SEMESTA RESEARCH dengan fasilitas penelitian seadanya oleh karena kami sadar akan keterbatasan fasilitas maupun wawasan kami dalam melakukan penelitian ini, akan tetapi kami berprinsip learning by doing dan tentunya dengan semangat kebersamaan kami memulai penelitian tersebut.

Berawal dari cerita masyarakat dan secara kebetulan Benteng yang diteliti itu dekat tempat tinggal salah satu aktivis SEMESTA RESEARCH dan tempat bermain semasa kecilnya, setelah melakukan beberapa kali diskusi kami semakin termotivasi untuk terjun langsung kelapangan, hasilnya akan kami uraikan beserta foto-foto dilapangan di bawah ini :

Menurut penuturan warga yang tinggal di lokasi  bangunan benteng ini adalah peninggalan kolonial Jepang saat menjajah Indonesia sebagai markas maupun benteng pertahanan nereka. Benteamai bangunan tersebut menyesuaikan dengan alamat keberadaannya yaitu BENTENG JEPANG CARINGIN meskipun belum tentu bahwa objek yang kami teliti adalah benteng ataupun bangunan lainnya yang dibangun dan digunakan colonial, sebagaimana dapat dilihat dalam gambar bangunan berada di tengah-tengah pesawahan warga dan disekitarnya telah tumbuh pepohonan pemilik tanah dan ditumbuhi rumput-rumput yang menutupi atas bangunan tersebut.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas sebagian sumber inspirasi penelitian ini adalah tradisi lisan masyarakat setempat, salah satu sumber mengatakan bahwa bangunan itu adalah benteng colonial Jepang yang memiliki terowongan ke pesisir pantai Laguna (Caringin) bahkan ke benteng di Teluk (Labuan) yang jaraknya berkisar 2000 meter, keterangan di atas masih bersifat nisbi karena tanpa bukti-bukti fisik  akan tetapi bukan berarti tidak mungkin tentang keberadaan terowongan tersebut karena kami telah mengetahui keberadaan benteng di pesisir pantai teluk yang dimaksud akan tetapi meskipun keberadaan benteng di Pantai Teluk itu benar belum tentu memiliki terowongan ke Benteng Jepang di Caringin yang sedang diteliti.  

Waktu dibangunnya benteng tersebut belum dapat diketahui akan tetapi sesuai dengan tradisi lisan warga sekitar bahwa Bangunan tersebut adalah benteng pada masa colonial Jepang yang menjajah ke Indonesia dari tahun 1942-1945, artinya sementara ini kami hanya mengetahui periodenya saja sedangkan untuk tanggal, bulan dan tahunnya belum kami ketahui.

Hasil penelitian sementara dari segi Ukuran bangunan ini memiliki panjang 5 meter dan lebar 4 meter diukur dari bagian atas bangunan yang bersegi empat sedangkan untuk tinggi kami belum mendapatkan hasil dikarenakan bangunan tersebut dalam posisi terpendam dan dapat dikatakan bangunan ini adalah ruang di bawah tanah dulunya diperkirakan setelah mengalami proses pembukaan lahan untuk dijadikan pesawahan ataupun pertanian lainnya disekitar bangunan tersebut mengalami penggalian, untuk mendapatkan ukuran tinggi kita harus melakukan penggalian akan tetapi apabila diukur dari dalam ruangan bangunan tersebut memiliki tinggi kurang lebih 2 meter, sedangkan ukuran di dalam ruangan kurang lebih berukuran 1 meter. Apabila kita berada diatas bangunan kita akan melihat dua lubang yang memiliki ukuran yang sama yaitu panjang 50 Cm dan lebar 20 Cm yang diperkirakan lubang tersebut berfungsi sebagai ventilasi atau penerangan kedalam ruangan, dinding bangunan tersebut memiliki ketebalan sekitas 50 Cm, bahan dasar bangunan ini terdiri dari batu sungai yang berukuran kecil, karang, pasir serta bahan plester yang belum dapat kami jelaskan secara detail.

Pintu masuk kedalam ruangan ini seperti yang dapat dilihat dari foto pintu masuk telah ditumbuhi rumput-rumput dan pepohonan setinggi badan dengan ukuran pintu lebar 70 cm dan tinggi 60 cm akan tetapi untuk tinggi pintu masuk bukan ukuran aslinya karena kedasar pintu dalam kondisi tertimbun tanah, hasil pengamatan kami bangunan tersebut sudah sering dimasuki oleh warga ataupun pemilik tanah sebagaimana foto di atas kami menemukan tulisan dari cat berwarna merah yang bertuliskan “DILARANG MASUK” akan tetapi kami belum mengetahui siapa inisiatornya.

Apabila kita masuk kedalam ruangan kita akan melewati tiga sudut ruangan, pertama dari pintu lurus kemudian kekiri dan kekanan untuk  masuk kedalam ruangan inti, setelah kita berada di dalam ruangan inti di bagian barat kita akan menemui pintu yang ukurannya sama dengan ukuran pintu masuk yang telah dijelaskan di atas akan tetapi kami belum mengetahui menuju kemanakah pintu itu apakah kedalam ruangan lainnya ataupun pintu keluar karena kondisi pintu itu tertutup oleh tanah, jika kita berspekulasi bahwa pintu di dalam ruangan ini menuju ruangan lagi kemungkinan besar menuju keruangan bawah karena jika mendatar kemungkinan besar itu pintu keluar karena sekitar 4 meter dari pintu itu kesebelah barat adalah tebing pesawahahan warga, menurut pengamatan dan kajian kami pintu di dalam ruangan yang tertimbun tanah itu dapat menjadi jawaban untuk kita mengetahui fungsi dan jenis bangunan yang sebenarnya. tentunya untuk mendapatkan hasil yang lebih objektif kita harus melakukan penggalian dan penelitian lebih lanjut.

Ruangan dalam bangunan ini berukuran sekitar panjang dan lebar 3 meter dengan tinggi dari lantai ke atas sekitar 1 meter itupun bukan ukuran sebenarnya karena lantai dasarnya adalah timbunan tanah serta sampah-sampah seperti buah kelapa yang mengering dan material lainnya yang masuk melalui pintu ataupun lubang bersegi empat dibagian atap.

Pembahasan kita lanjutkan dari segi seni yang terdapat di dinding setiap ruangan, hasil penelitian kami menemukan ornament, interior ataupun seni yang terdapat di dinding bersegi empat yang cembung dan sebagai langkah untuk mengetahui seni dinding manakah yang dipakai dalam bangunan ini kami akan melakukan perbandingan dengan seni bangunan-bangunan lama lainnya.

Benda atau bangunan peninggalan masa lalu merupakan aset berharga bagi kita saat ini karena selain memiliki sisi keilmuan juga memiliki potensi ekonomi untuk kesejahteraan​ masyarakat. Namun benda peninggalan sejarah di kabupaten Pandeglang khususnya belum sepenuhnya diperhatikan secara maksimal, semoga melalui penelitian yang masih jauh dari kaidah dan metode penelitian ilmiah namun menjadi informasi maupun langkah awal demi kelestarian benda dan bangunan bersejarah terutama yang belum ditetapkan sebagai benda bersejarah yang dilindungi.

Terimakasih

Benteng Peninggalan Jepang di Caringin (Edisi Revisi)

Tags

,

Nama Objek: Benteng Peninggalan Jepang
Alamat: Kp. Caringin Ds. Pejamben Kec. Carita Kab. Pandeglang Banten
Waktu: Sabtu, 10 Maret 2012
Pukul: 14.00 WIB s/d 17.00 WIB
Team: Oji Fahruroji & Hendar Kiswanto (SEMESTA RESEARCH)

Menurut penuturan warga disekitar, bahwa benteng ini merupakan peninggalan kolonial Jepang yang digunakan sebagai benteng pertahanan. Meskipun ada yang berpendapat bahwa benteng tersebut adalah peninggalan kolonial Belanda sebagaimana tulisan kami sebelumnya akan tetapi setelah melakukan penelitian lebih lanjut kami mengambil kesimpulan bahwa bangunan ini lebih dipercayai merupakan peninggalan kolonial Jepang dengan membandingkan dan menganalisis jenis bangunannya.

Lokasi bangunan yang kami teliti beralamat di Kp. Caringin Ds. Pejamben Kec. Carita kab. Pandeglang-banten, letak geografis bangunan tersebut kesebelah barat berjarak sekitar 1000 meter dari pantai laguna-caringin.

Penelitian kali ini dapat dikatakan untuk pertama kalinya dilakukan oleh aktivis SEMESTA RESEARCH dengan fasilitas penelitian seadanya oleh karena kami sadar akan keterbatasan fasilitas maupun wawasan kami dalam melakukan penelitian ini, akan tetapi kami berprinsip learning by doing dan tentunya dengan semangat kebersamaan kami memulai penelitian tersebut.

Berawal dari cerita masyarakat dan secara kebetulan Benteng yang diteliti itu dekat tempat tinggal salah satu aktivis SEMESTA RESEARCH dan tempat bermain semasa kecilnya, setelah melakukan beberapa kali diskusi kami semakin termotivasi untuk terjun langsung kelapangan, hasilnya akan kami uraikan beserta foto-foto dilapangan di bawah ini :

Menurut penuturan warga yang tinggal di lokasi  bangunan benteng ini adalah peninggalan kolonial Jepang saat menjajah Indonesia sebagai markas maupun benteng pertahanan nereka. Benteamai bangunan tersebut menyesuaikan dengan alamat keberadaannya yaitu BENTENG JEPANG CARINGIN meskipun belum tentu bahwa objek yang kami teliti adalah benteng ataupun bangunan lainnya yang dibangun dan digunakan colonial, sebagaimana dapat dilihat dalam gambar bangunan berada di tengah-tengah pesawahan warga dan disekitarnya telah tumbuh pepohonan pemilik tanah dan ditumbuhi rumput-rumput yang menutupi atas bangunan tersebut.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas sebagian sumber inspirasi penelitian ini adalah tradisi lisan masyarakat setempat, salah satu sumber mengatakan bahwa bangunan itu adalah benteng colonial Jepang yang memiliki terowongan ke pesisir pantai Laguna (Caringin) bahkan ke benteng di Teluk (Labuan) yang jaraknya berkisar 2000 meter, keterangan di atas masih bersifat nisbi karena tanpa bukti-bukti fisik  akan tetapi bukan berarti tidak mungkin tentang keberadaan terowongan tersebut karena kami telah mengetahui keberadaan benteng di pesisir pantai teluk yang dimaksud akan tetapi meskipun keberadaan benteng di Pantai Teluk itu benar belum tentu memiliki terowongan ke Benteng Jepang di Caringin yang sedang diteliti.  

Waktu dibangunnya benteng tersebut belum dapat diketahui akan tetapi sesuai dengan tradisi lisan warga sekitar bahwa Bangunan tersebut adalah benteng pada masa colonial Jepang yang menjajah ke Indonesia dari tahun 1942-1945, artinya sementara ini kami hanya mengetahui periodenya saja sedangkan untuk tanggal, bulan dan tahunnya belum kami ketahui.

Hasil penelitian sementara dari segi Ukuran bangunan ini memiliki panjang 5 meter dan lebar 4 meter diukur dari bagian atas bangunan yang bersegi empat sedangkan untuk tinggi kami belum mendapatkan hasil dikarenakan bangunan tersebut dalam posisi terpendam dan dapat dikatakan bangunan ini adalah ruang di bawah tanah dulunya diperkirakan setelah mengalami proses pembukaan lahan untuk dijadikan pesawahan ataupun pertanian lainnya disekitar bangunan tersebut mengalami penggalian, untuk mendapatkan ukuran tinggi kita harus melakukan penggalian akan tetapi apabila diukur dari dalam ruangan bangunan tersebut memiliki tinggi kurang lebih 2 meter, sedangkan ukuran di dalam ruangan kurang lebih berukuran 1 meter. Apabila kita berada diatas bangunan kita akan melihat dua lubang yang memiliki ukuran yang sama yaitu panjang 50 Cm dan lebar 20 Cm yang diperkirakan lubang tersebut berfungsi sebagai ventilasi atau penerangan kedalam ruangan, dinding bangunan tersebut memiliki ketebalan sekitas 50 Cm, bahan dasar bangunan ini terdiri dari batu sungai yang berukuran kecil, karang, pasir serta bahan plester yang belum dapat kami jelaskan secara detail.

Pintu masuk kedalam ruangan ini seperti yang dapat dilihat dari foto pintu masuk telah ditumbuhi rumput-rumput dan pepohonan setinggi badan dengan ukuran pintu lebar 70 cm dan tinggi 60 cm akan tetapi untuk tinggi pintu masuk bukan ukuran aslinya karena kedasar pintu dalam kondisi tertimbun tanah, hasil pengamatan kami bangunan tersebut sudah sering dimasuki oleh warga ataupun pemilik tanah sebagaimana foto di atas kami menemukan tulisan dari cat berwarna merah yang bertuliskan “DILARANG MASUK” akan tetapi kami belum mengetahui siapa inisiatornya.

Apabila kita masuk kedalam ruangan kita akan melewati tiga sudut ruangan, pertama dari pintu lurus kemudian kekiri dan kekanan untuk  masuk kedalam ruangan inti, setelah kita berada di dalam ruangan inti di bagian barat kita akan menemui pintu yang ukurannya sama dengan ukuran pintu masuk yang telah dijelaskan di atas akan tetapi kami belum mengetahui menuju kemanakah pintu itu apakah kedalam ruangan lainnya ataupun pintu keluar karena kondisi pintu itu tertutup oleh tanah, jika kita berspekulasi bahwa pintu di dalam ruangan ini menuju ruangan lagi kemungkinan besar menuju keruangan bawah karena jika mendatar kemungkinan besar itu pintu keluar karena sekitar 4 meter dari pintu itu kesebelah barat adalah tebing pesawahahan warga, menurut pengamatan dan kajian kami pintu di dalam ruangan yang tertimbun tanah itu dapat menjadi jawaban untuk kita mengetahui fungsi dan jenis bangunan yang sebenarnya. tentunya untuk mendapatkan hasil yang lebih objektif kita harus melakukan penggalian dan penelitian lebih lanjut.

Ruangan dalam bangunan ini berukuran sekitar panjang dan lebar 3 meter dengan tinggi dari lantai ke atas sekitar 1 meter itupun bukan ukuran sebenarnya karena lantai dasarnya adalah timbunan tanah serta sampah-sampah seperti buah kelapa yang mengering dan material lainnya yang masuk melalui pintu ataupun lubang bersegi empat dibagian atap.

Pembahasan kita lanjutkan dari segi seni yang terdapat di dinding setiap ruangan, hasil penelitian kami menemukan ornament, interior ataupun seni yang terdapat di dinding bersegi empat yang cembung dan sebagai langkah untuk mengetahui seni dinding manakah yang dipakai dalam bangunan ini kami akan melakukan perbandingan dengan seni bangunan-bangunan lama lainnya.

Benda atau bangunan peninggalan masa lalu merupakan aset berharga bagi kita saat ini karena selain memiliki sisi keilmuan juga memiliki potensi ekonomi untuk kesejahteraan​ masyarakat. Namun benda peninggalan sejarah di kabupaten Pandeglang khususnya belum sepenuhnya diperhatikan secara maksimal, semoga melalui penelitian yang masih jauh dari kaidah dan metode penelitian ilmiah namun menjadi informasi maupun langkah awal demi kelestarian benda dan bangunan bersejarah terutama yang belum ditetapkan sebagai benda bersejarah yang dilindungi.

Terimakasih

Kedamaian yang Nyata

Tags

Seperti tiupan angin dari timur ke barat

Meniup pepohonan alunkan melodi lembut

Membawa harum aroma bunga-bunga

Menerbangkan jiwaku bebas terbang bersamamu

Dari atas awan aku lihat bibir pantai

Ombak lembut menerpa pasir putih

Aku bermain bersama merpati putih

Sesekali berdiri digumpalan awan

Dari atas sini aku melihatmu

Ternyata bumi kita indah 

Aku berjanji segera kembali turun

Untuk berjalan kembali

Karena sebenarnya aku yakin

Di bumiku ada kedamaian yang nyata

Meski ada olok-olok, hinaan dan tangan yang mengucurkan darah

Sebenarnya bumi damai seperti yang kulihat dari sini

Aku kan segera turun

Aku rindu senyuman penuh keakraban itu

Atau menyaksikan anak-anak kecil melukis raja yang tampan dan adil

Dengan istananya yang megah dan ramai ketika pesta rakyat setelah panen yang melimpah

By. Oji Fahruroji

Bayangan

Tags

Seperti Bayanganku 

Kau setia mengikuti kemana saja

Pagi, siang dan malam pun

Kau hadir sangat dekat
Adakalanya aku bosan dibayangi

Atau malah aku takut terus diikuti

Karena bila kau terus menjadi bayanganku

Sedang tak mungkin lagi kau menjelma bukan sebagai bayangan
Apalagi ketika hujan dalam kesendirian

Atau malam menyandera bersama dingin

Meski mulai dari saat aku menerima kau lebih memilih menjadi bayang-bayang

Namun tak mudah rasanya menghadapi bayanganmu
Percuma berlari

Karena kau pasti mengikuti

Tak guna menghindari

Karena sebenarnya kau kini hanyalah sosok bayangan

By. Oji Fahruroji

NGAGEBOT PARE, Sebuah Tradisi Panen Padi di Pandeglang

Tags

, , , , ,

Pandeglang adalah sebuah kabupaten di provinsi Banten yang potensi Wilayahnya pegunungan dan perbukitan serta pantai yang cukup luas oleh karenanya rata-rata penghidupa masyarakat Pandeglang berasal dari pertanian, nelayan dan perdagangan. Berbicara pertanian di Pandeglang khususnya pertanian padi (Pesawahan). Maka kita akan menemukan hal unik yang ketika petani mulai memasuki masa panen. 

Sebagian masyarakat Pandeglang contohnya di Desa Tenjolahang kecamatan Jiput menyebut kata menuai padi yaitu dengan kata Ngagebot, yaitu proses pemisahan buah padi dari pohonnya dengan cara memukul-mukul​ kan satu ikat pohon padi ke kotak yang terbuat dari kayu hingga buah padi terpisah dari pohonnya. Kotak kayu biasanya berdiameter 2 (Dua) meter persegi, Jika kotak sudah terisi penuh oleh biji padi maka padi akan dimasukkan kedalam karung.

Jika proses ngagebot telah selesai, petani akan segera menjemur padi di bawah sinar matahari sampai buah padi kering dan siap di giling, setelah sebelumnya​ menyimpan sebagian padi untuk dijadikan bibit untuk ditanam kembali.

Ngagebot adalah mata pencaharian sebagian warga Pandeglang yang membutuhkan kekuatan fisik dan tenaga kuat karena meskipun terik matahari atau hujan turun ngagebot harus tetap dilakukan, meskipun demikian rasanya tidak berimbang antara tenaga yang dikeluarkan dengan upah yang tidak diterima. Semoga pertanian di kabupaten Pandeglang kedepannya bisa lebih maju dengan memanfaatkan teknologi tepat guna dengan harapan akhir mensejahterakan petani di wilayah Kabupaten Pandeglang-Banten

Follow Me:

@oji_fahrur

Oji Fahruroji

Janji-Janji

Tags

Sumpah serapahku kini tinggal sampah

Bodoh kau, akankah seribu kali kau masuk pada lubang yang sama?

Atau masuk lubang baru yang kau gali sendiri

Gila, ikan saja tak mau memakan dua kali umpan yang ternyata didalamnya pancing

Lebih baik menjadi bisu agar tak menjadi pembual

Atau tak pernah berludah agar tak pernah menelan ludah sendiri

Berjanjilah lagi pada janji-janji yang pernah dijanjikan

Agar kau merasa masih punya waktu untuk memenuhinya

Tak cukupkah Adam Alaihissalam menjadi teladan

Ketika buah larangan ditelan karena datang godaan 

Namun ia segera bertaubat dan tak pernah lagi khianat pada taubatnya

Malulah pada Nuh yang sabar ratusan tahun berdakwah 

Meski sedikit saja yang mendengar kebenaran risalahnya

Nabi akhir jaman telah diturunkan menyempurnakan akhlak manusia

Namun mengapa kau tak mengikutinya

Lalu akankah kau ingin mati ketika kau masih berhutang janji

Aku takut karena waktuku yang terus berkurang

Tuhan

Kasihlah hamba yang hina ini

Bimbinglah diri agar jauh dari penyakit hati

Kuatkan jiwa agar mampu melawan nafsu dan tipu dunia

Mata yang mampu melihat kebenaran

Mulut yang selalu menyampaikan kebenaran

Ridhomu hamba harap, agar hamba mampu menunaikan janji-janji yang pernah terucap

Menjalani sisa usia dengan kesabaran dan keta’atan pada jalanmu 



​Kata-kata Ku

Tags

,

Kata-kata Ku 
Huruf-hurufnya tercerai berai

Ditiup badai kegelisahan jiwa

Sudahlah tak usah kau susun kembali 

Tak usah susah-susah memungut mereka

Biarkan huruf-huruf itu terbang ke angkasa
Kata-kata Ku

Mungkin diam lebih baik saat ini

Diam saja, biarkan dunia semau mereka

Tak usah aku mengomentarinya

Karena mual rasanya jika bicara tak sesuai isinya

Yang ada sampah terus menggunung dengan bau busuknya
Kata-kata Ku

Lebih baik bisu

Agar tak dianggap pepesan kosong

Sekalian tuli

Agar tak geli mendengarkan ocehan

Meskipun aku tak memungkiri bahwa perubahan adalah sebuah kata
Kata-kata Ku

Bergeraklah kau menyusun menjadi kalimat

Ceritakanlah tentang pribadi yang tak hanya berbicara

Pribadi yang penuh arti

Hingga aku tak malu 

Ketika aku mulai berbicara tentang kata-kata

Kata-kata Ku

Oji Fahruroji

Kota Labuan Gemilang

Tags

, , , ,

​KOTA LABUAN GEMILANG

Sebuah Kontemplasi Perjuangan 12 November 1926 untuk Masa Depan Kota Labuan yang Gemilang

Oleh: Oji Fahruroji

Background Kota Labuan Gemilang


Jika kita flashback sembilan puluh tahun kebelakang tepatnya sekitar 12 November 1926 maka hari-hari itu di Banten khususnya di Labuan dan sekitarnya sedang dilakukan sebuah konsolidasi mengenai perjuangan perlawanan rakyat terhadap kolonial Belanda yang saat itu menghegemoni. Meskipun pergerakan perlawanan ini sebagai hasil dari gerakan bawah tanah Partai Komunis Indonesia (PKI) setelah Sarekat Islam (SI) melemah yang dipimpin oleh Achmad Chatib dan peranan penting dalam perjuangan seperti Abuya Moekri serta kharismatiknya Mama Ajengan Caringin (Syekh Asnawi) dan tokoh pejuang lainnya namun sesungguhnya aksi revolusioner di Labuan dan sekitarnya merupakan perang suci yang didasari keagamaan dan kebangsaan yang melawan kedzaliman kolonial karena dapat dikatakan bahwa ideologi komunis tidak diterima begitu saja karena nyatanya dalam penyerangan 12 November 1926 dan beberapa pekan selanjutnya semangatnya adalah semangat jihad ditandai dengan kibaran bendera bertuliskan “Dengan pertolongan Allah segalanya dapat diraih” dan sebelum perangpun para pejuang berpuasa terlebih dahulu serta sembahyang perang. Meskipun kekuatan pribumi hanya didukung dengan persenjataan seadanya berbeda jauh dengan peralatan perang yang dimiliki kolonial Belanda dan antek-anteknya namun berkat terjalinnya kesatuan Para Ulama yang memimpin para petani, nelayan, pedagang, buruh dan lainnya untuk mengusir penjajahan dan meraih kebebasan di daerah yang muaranya adalah kemerdekaan Indonesia pada saat itu mampu menekan kekuatan kolonial meskipun tidak berhasil menumpas secara keseluruhan. (Sumber: Arit dan Bulan Sabit. Michael C. Williams)

Opsi Tugu Kota Labuan Gemilang


Kota Labuan saat ini merupakan sebuah kecamatan di kabupaten Pandeglang provinsi Banten dengan luas wilayah 15,66 km2 dan merupakan kecamatan terpadat di kabupaten Pandeglang. Letak geografis kota Labuan berada di pesisir pantai dengan ketinggian 3 meter di atas permukaan laut oleh karenanya dikenal juga sebagai kota nelayan dengan penghasilan ikan yang luar biasa melimpah, selain itu Labuan menjadi jantung perekonomian wilayah disekitarnya dengan memiliki pasar dan industri dan perbankan, dan potensi wisata alam dan religi yang telah dikenal oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, kini Labuan menjadi kota yang modern dan multi etnis dengan berdampingannya suku asli Sunda Jawa dan suku pendatang seperti etnis Tionghoa, Minang, Batak dan lainnya dengan rukun. Namun jika kita melihat sisi lain dari kota Labuan akan membuat mata tercengang seperti infrastruktur jalan yang rusak, kurangnya fasilitas umum, kesenjangan sosial dan bebasnya pergaulan remaja dan polemik lainnya masih nampak di kota Labuan.
Berdasarkan kondisi Labuan di atas Gerakan Pemuda Kota Labuan (GPKL) yang di motori oleh para tokoh pemuda dan merangkul semua elemen di Labuan dengan semangat kebersamaan dan bentuk pengabdian murni pada masyarakat Labuan GPKL akan menyelenggarakan “Peringatan Hari Jadi Kota Labuan” dengan tagline KOTA LABUAN GEMILANG pada 12 November 2016 di Labuan dan telah memiliki beberapa agenda awal diantaranya Pembuatan Tugu Labuan, Renovasi Gerbang Selamat Datang Kota Labuan, Eks Kewedanaan Labuan dan agenda lainnya . Kegiatan ini murni lahir dari masyarakat dan merupakan panggung bagi kamu muda untuk menyampaikan visi sekaligus kegelisahannya tentang kondisi kota Labuan dan juga diwarnai dengan pentas seni budaya daerah dan islami, akuistik pemuda di Labuan. Kegiatan ini melibatkan pula berbagai unsur baik para pemuda, akademisi, tokoh, organisasi massa, petani, pedagang, nelayan, intansi pemerintah, Lembaga swasta di kecamatan Labuan dan Pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Kantor eks Kewedanaan Labuan

Perubahan suatu daerah yang sesungguhnya adalah ketika kemauan itu timbul dari seluruh masyarakat, maka membentuk karakter masyarakat adalah langkah awal yang harus dilakukan terutama membina generasi muda yang hari ini terjebak dalam perangkap kebebasan yang seolah tanpa batas.

Tanahnya masih luas dan Airnya Masih Mengalir

Tags

, , , , , , ,

Tanahnya masih luas

Airnya masih mengalir

Meskipun aku harus puas

Beras dipasok dari importir
Petani mencangkul di tanahnya

Benih di cocok pada lubangnya

Giliran menuai hasilnya

Sawahnya dipagari baja usaha swasta
Tanahnya masih luas

Namun yang boleh di garap terbatas

Airnya masih mengalir

Meski sampah pabrik kimia mencemari air
Petani senang pemerintah hadir

Program-program diterbitkan

Namun petani bingung diakhir

Karena tanahnya milik orang lain
Tanahnya masih luas

Airnya masih mengalir

Kapan pak tani dan buruh tani kita naik kelas

Sejahtera lahir batinnya dan mencukupi pangan tanah air

Selamat Hari Tani Nasional Tahun 2016

Tanahnya masih luas dan Airnya Masih Mengalir
Oleh: Oji Fahruroji

Kesenian Dodod Pandeglang

Tags

, , , ,

Kesenian Dodod Pandeglang

Kesenian Dodod dari Saketi Pandeglang (Diambil di Kecamatan Bojong-Pandeglang saat resepsi pernikahan) @oji_fahrur


Kesenian Dodod adalah salah satu seni tradisional di tanah Sunda Wiwitan, kesenian ini pada awalnya merupakan ritual para petani padi yang dipersembahkan pada Dewi Padi (Dewi Sri) agar proses muali dari penanaman sampai panen padinya lancar dan berbuah melimpah, oleh karenanya tarian Dododpun diambil dari gerakan-gerakan seperti menanam dan memanen padi dan ada juga gerakan tarian yang mirip dengan gerakan pencak silat. Namun seiring dengan kedatangan Islam ke Nusantara maka islamisasipun terjadi di tanah Sunda dan tarian Dododpun diasimilasi dengan nafas-nafas Islam.

Tarian Dodod saat ini keberadaannya hampir punah, Kabupaten Pandeglang adalah salah satu wilayah yang memiliki kesenian ini salah satunya di Kecamatan Saketi Kabupaten Pandeglang-Banten, kelompok Dodod dari Saketi ini sering di undang ke momen tertentu terutama resepsi pernikahan dan sunatan meskipun kini jarang.

Setiap pementasan Dodod beranggotakan sepuluh orang atau lebih yang masing-masing memiliki tugas tersendiri untuk memainkan alat musik dan dalam pentas tertentu ada juga beberapa penari yang menyesuaikan dengan irama musik Dodod yang didendangkan. Selain tarian dalam kesenian Dodod juga ada nyanyian-nyanyian syair tertentu. Alat-alat musik Dodod terdiri dari beberapa instrumen seperti Bedug ukuran kecil dan Angklung, Kostum para pemain Dodod biasanya seragam dan memakai penutup kepala yang masing-masing perpaduan Sunda dan Seni dalam Islam, Dodod juga dimainkan oleh pria maupun wanita. Kesenian Dodod memiliki keragaman baik dalam alat-alat, tarian dan aspek lainnya.

Kesenian adalah bunga-bunga kehidupan masyarakat sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan YME dan kegembiraan yang di kemas bentuk kesenian termasuk kesenian Dodod di Kabupaten Pandeglang. Oleh karena itu selayaknyalah masyarakat dan pemerintah Kabupaten Pandeglang tetap melestarikan keberadaan seni budaya tradisional yang memiliki implikasi pada pariwisata dan ekonomi. Semoga kita dapat memaknai pesan yang terkandung yaitu tentang rasa syukur kepada Tuhan dan tentang kemajuan dalam pertanian terutama padi sehingga para petani di Kabupaten Pandeglang-Banten sejahtera lahir batinnya.

Oleh Oji Fahruroji

Isi/Konten merupakan hasil wawancara salah satu personel Dodod dalam satu kesempatan.

Pentas Dodod Pandeglang di Bojong

@oji_fahrur

Belajar Menulis